Tampilkan postingan dengan label Bisnis Internet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis Internet. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 November 2012

Empat Alasan Orang Lain Kaya, Anda Tidak...

Guest Post dari Syamsul Alam -- Pemilik Situs yang Rencananya Bakal Jadi Tempat Belajar Bisnis Online Gratis Terbaik se-Indonesia

Dalam perjalanan saya menjadi self entrepreneur online, mendirikan beberapa bisnis online saya sendiri, dan belajar tentang bisnis dan marketing, saya 'dipaksa' untuk melihat dan belajar dari banyak sekali orang sukses.

Ketika saya ikut kumpul-kumpul seminar, atau forum, atau komunitas para entrepreneur, saya perlahan-lahan belajar apa sih yang membedakan orang kaya dan orang yang miskin.

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari rasa penasaran masa kecil mengenai kekayaan sedikit demi sedikit terjawab. Pertanyaan yang mungkin juga sering anda tanyakan ketika anda nganggur. Pertanyaan seperti:

Apa yang membuat seseorang lebih sering beruntung dan sukses dalam bisnisnya, sementara orang lain sering gagal dan gagal terus dalam bisnisnya -- entah itu bisnis online atau bisnis konvensional? Apa yang membuat orang kaya lebih kaya, sementara yang miskin menjadi lebih miskin?

Hm...

Dan saya tahu, sukses itu sangat relatif.

Ada orang yang bilang sukses itu ketika ia menjadi pebasket atau pesebakbola profesional. Ada yang bilang sukses itu ketika bisa sekolah tinggi hingga jadi profesor, ada yang bilang kalau sukses itu ketika kita bisa mendaki puncak gunung tertinggi, dan banyak lagi...

Tapi karena blog ini tentang bisnis, mari kita sepakati satu hal.

Kesuksesan adalah ketika kita secara FINANSIAL bisa melakukan APAPUN yang kita cintai, KAPANPUN, DIMANAPUN, dan dengan cara APAPUN -- tentunya yang masih sesuai norma.

Sukses bagi kita adalah ketika kita BEBAS mau mencium istri kita DIMANAPUN, entah itu di Paris, di puncak piramid Mesir, KAPANPUN entah itu minggu depan, bulan depan, besok lusa, dan dengan cara APAPUN seperti sambil naik helikopter, sambil diiringi ratusan bunga, sambil parade, dan lain-lain.

Tentu saja contoh di atas adalah contoh yang lebay. Tapi saya yakin anda mengerti maksud saya lah...

Balik ke topik, setelah saya habiskan kurang lebih 5 tahun membaca buku, mengikuti seminar, mendengarkan CD audio, menganalisis orang sukses yang benar-benar sukses, saya mendapati kesamaan. Saya mendapati beberapa karakteristik unik. Dan tiap orang sukses yang saya tahu punya karakteristik unik ini, yang membedakan dirinya dari orang rata-rata yang biasa-biasa saja...

Orang Rata-Rata Bekerja Keras untuk Orang Lain, Orang Sukses Bekerja Keras untuk Dirinya Sendiri

Faktanya adalah bahwa TIDAK ADA hubungan langsung antara kerja keras dan kesuksesan.

Pembantu, bekerja lebih keras daripada majikannya, tapi tidak lebih sukses secara finansial daripada majikannya. Buruh bisa jadi bekerja lebih keras daripada si pemilik perusahaan, tapi pemilik perusahaan lebih sukses secara finansial daripada semua buruhnya digabung jadi satu.Yang menjadi beda adalah adalah orang kaya bekerja keras untuk dirinya sendiri.

Contoh yang paling jelas adalah Chairul Tanjung. Di awal karirnya, dia bekerja kurang lebih 14 - 18 jam sehari untuk membesarkan bisnisnya sendiri. Membesarkan pabriknya sendiri. Dia berkenalan dengan banyak orang, mengerjakan amanah yang diembankan ke dia, belajar, untuk dirinya sendiri. Agar lebih banyak jaringannya, agar dirinya lebih dipercaya orang lain. Setelah beberapa puluh tahun, lihat dia sekarang seperti apa jadinya.

Anda tahu pemilik perusahaan Aqua? Saya lupa namanya -- saya ingat saya pernah tulis mengenai dia di blog saya, yang intinya adalah dia bekerja sangat keras menjual air dalam gelas pada orang-orang di stasion dan pekerja dari luar negeri. Dia ditertawakan, tentu saja. Buat apa beli air kalau di warung bisa dapat gratis setelah pesan makan? Anda tak bisa bayangkan betapa keras kerja yang dia lakukan untuk 'membudidayakan' minum dalam kemasan. Tapi lihat Aqua sekarang. Apa ada merek yang lebih kita ingat selain Aqua? Saya tak yakin ada....

Orang Rata-Rata Melihat Istana dan Kebebasan, kemudian Berharap untuk Memilikinya, Sementara Orang Kaya Melihat Hal yang Sama, dan Berusaha untuk Memilikinya.

Hampir semua manusia di dunia ini MENGIRA dan YAKIN bahwa mereka tidak akan pernah mungkin menjadi jutawan, memiliki Alphard atau Ferrari, atau memiliki rumah senilai 3 milyar di kota besar.

Pertanyaan saya adalah kenapa?

Jika anda tanya 3 orang, apa yang mereka inginkan, sebagian besar akan jawab "uang yang lebih banyak", "hidup yang lebih tidak susah", "rumah yang bagus", "mobil yang lebih besar", "gaji yang lebih besar", dan lain-lain. Orang-orang itu sudah jelas-jelas menginginkan kehidupan yang lebih baik, uang yang lebih banyak, jalan-jalan liburan ke luar negeri, menghabiskan waktu tiga bulan penuh santai dengan keluarga di pantai Klayar di Pacitan sambil minum degan dan menikmati sunset tanpa harus khawatir mengenai uang dan pekerjaan. Tapi, karena suatu alasan, mereka memutuskan bahwa menggapai apa yang mereka impikan bukanlah sesuatu yang mereka bisa.

Apa orang-orang ini gila?

Bayangkan jika di Indonesia ini tidak ada orang-orang yang percaya bahwa suatu hari nanti, Indonesia akan merdeka. Bayangkan jika di Indonesia ini, SEMUA orang berpikir bahwa mereka tidak bisa menggapai impian kemerdekaan? Yang terjadi adalah mungkin kita MASIH DIJAJAH hari ini. Orang-orang yang berjuang dan menjadi pahlawan dan memerdekakan bangsa ini hingga saat ini adalah orang yang sama dengan anda. Mereka memampukan diri mereka untuk meraih impian mereka.

Orang-orang kaya sama saja, ketika mereka memimpikan sesuatu, mereka berkata, "Yes, Mercedez Benz Class S itu akan jadi milik saya. Saya akan cari cara agar suatu saat saya bisa hadiahkan untuk orangtua atau istri saya jalan-jalan dengan mobil itu!"

Orang Rata-Rata Mengandalkan Pihak Lain untuk Menjamin Hidup Mereka, untuk Mendapatkan Gaji, Orang Sukses Mencari Cara dan Alternatif untuk Mendapatkan Uang, untuk Kemudian Bisa Menghasilkan Uang Kapanpun Mereka Mau

Hal ini benar-benar membuat saya tertegun, terkadang tidak percaya -- ada saja orang yang komplain mengenai pekerjaan, ada saja yang komplain, "Bos saya tidak punya cukup uang untuk menaikkan gaji saya", "perusahaan tidak mau menaikkan gaji saya", "kenapa tidak ada pekerjaan dengan gaji sekian juta", dan lain-lain. Kenapa harus menunggu pihak lain memutuskan sesuatu agar anda bisa mulai mendapatkan uang? Kenapa tidak membuat keputusan tersebut sendiri?

"Saya ingin uang sekian puluh juta tiga bulan dari sekarang, oleh karenanya saya akan belajar mengenai hal ini, sehingga saya bisa membuat hal ini dan bisnis ini, sehingga saya bisa dapat sekian puluh juta tiga bulan dari sekarang!" ~ Ini baru perkataan orang KAYA!

Orang Rata-Rata Berhutang untuk Membeli Hal-Hal yang Tidak Bisa Mereka Beli agar Mereka Terlihat Kaya, Sementara Orang Kaya Hanya Berhutang untuk Mengembangkan Bisnis Mereka Sehingga Dia Bisa Membeli Hal Bagus Tanpa Harus Utang.

Saya hidup di Surabaya. Mahasiswa di Universitas yang cukup terkenal di Jatim.

Anda tidak akan percaya betapa banyak teman saya yang 'memelas' uang pada orang tuanya agar bisa ke kampus dengan mobil bagus, yang menghabiskan ratusan ribu sehari untuk belanja di mall membeli baju bagus yang sedang trendi, yang menghabiskan waktu siang dengan makan di resto bagus atau menghabiskan puluhan ribu per 30 menit untuk beli rokok di warung agar bisa ngobrol dengan teman-temannya dan terlihat sosial.Dan orang yang sama adalah orang yang selalu nunggak ketika ditagih bayar pulsa.Orang-orang bodoh macam inilah yang membuang uang yang seharusnya bisa membuat mereka kaya.

Kenyataannya adalah mereka sengaja memperbudak diri mereka sendiri dengan kehidupan konsumtif, hutang terhadap hal-hal yang mereka miliki, semata-mata agar mereka punya alasan untuk tidak mengambil resiko dan mengejar impian mereka.

Dalam bisnis online, ini adalah contoh orang yang bisa beli baju tiap bulan. Habiskan ratusan ribu untuk beli rokok tiap bulan. Habiskan ratusan ribu untuk makan dan minum di kafe, tapi selalu tidak punya uang untuk membeli domain, membeli hosting, dan berbagai keperluan lain untuk bisnisnya sendiri.

Anda tahu Mark Zuckerberg? Bocah yang punya Facebook. Pernah lihat acara interview mengenai dirinya? Lihat dia, andai uangnya digabung jadi satu mungkin bisa untuk beli separuh pulau di Indonesia. Tapi tahukah Anda, dia tak pakai jam tangan mahal, datang interview dengan sandal Adidas, t-shirt coklat simpel, dan jaket murah.

Pernah pergi ke mall jam dua siang waktu makan siang? Anda akan temukan banyak laki-laki dengan jam tangan bagus, sepatu bagus, t-shirt Polo, tapi kebanyakan adalah mahasiswa miskin, atau karyawan dengan gaji yang tidak besar-besar banget yang mencoba untuk menarik perhatian cewek cantik di mall.

Pertanyaannya, apakah anda menghabiskan uang untuk TERLIHAT sukses, atau apakah anda menghabiskan uang agar BENAR-BENAR sukses?

Seribu Tiga Ratus Kata Kemudian...

Dan hei, saya sebenarnya masih punya beberapa karakteristik orang kaya. Tapi artikel ini sudah menjadi amat panjang dan saya tak ingin menghabiskan lebih banyak waktu anda.

Jika anda suka artikel ini, atau anda suka cara saya menulis yang saya pikir, besar kemungkinan anda suka saya.

Jika demikian adanya, anda bisa kenal lebih banyak dengan saya di situs saya yang baru, situs yang dalam waktu dekat akan saya buat sebagai situs tempat belajar bisnis online gratis terlengkap dan terbaik di Indonesia. Kunjungi: http://www.syamsulalam.net/

Rabu, 26 Januari 2011

BISNIS: Terlalu Percaya, Hati-Hati Kena Batunya

Kepercayaan termasuk faktor yang sangat penting dalam suatu bisnis. Lebih-lebih dalam bisnis online yang minim kontak fisik antara penjual dan pembeli. Tidak mengherankan jika sebagian pelaku bisnis menjaga kuat-kuat kredibilitasnya dengan mencitrakan diri sebagai orang yang bisa dipercaya dan tidak mengingkari kepercayaan yang diberikan. Namun, sebagian yang lain masih saja mencoba-coba bermain api untuk mengabaikan faktor kepercayaan ini. Padahal, sekali saja kepercayaan itu hilang alamat kredibilitas sebagai pebisnis yang akan dipertaruhkan.

Kali ini, saya tidak akan membahas tentang kepercayaan dalam bisnis online karena selama enam bulan terakhir ini saya sedang vakum dari kegiatan tersebut. Walaupun demikian kegiatan bisnis offline dibidang penjualan pulsa elektrik masih tetap eksis hingga sekarang. Dan kali ini saya akan bercerita tentang bagaimana kepercayaan itu penting bagi kelangsungan suatu bisnis. Kebetulan bisnis yang saya jalani sedikit banyak juga berhubungan dengan faktor kepercayaan. Bagaimana saya harus ditinggalkan member karena telat mengirim deposit dan bagaimana saya harus kehilangan aset/modal karena terlalu percaya dengan member. Jadi, simak baik baik ya! mudah-mudahan ini tidak terjadi pada bisnis Anda.

Begini Kisahnya ...

 
Walaupun sebagian besar member saya direkrut secara online karena tersebar seantero negeri ini (hehe..). Tapi saya juga tetap merekrut member secara offline artinya mereka memang langsung kontak fisik dengan saya. Serah terima uang, komplain, dan membicarakan kesulitan-kesulitan dalam menjalani bisnis secara langsung. Member offline saya otomatis adalah kerabat atau kawan-kawan yang bertempat tinggal di sekitar rumah saya. Tapi mereka sudah saya bagi sedemikian rupa sehingga satu wilayah hanya ada satu member agar tidak terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan di kemudian hari.

Dalam hal deposit ada sebagian member yang membayar cas dan langsung saya kirim deposit sesuai permintaan, namun ada juga yang membayar deposit di belakang setelah uang dari para pembeli pulsa terkumpul. Artinya saya seratus persen memodali member tersebut untuk menjalankan bisnis pulsanya.

Karena terlalu percaya pada sang member akhirnya saya pun kena batunya. Deposit-deposit yang saya trasfer dan sudah terjual disetor dalam kondisi berkurang dengan alasan pembelinya belum bayar alias hutang. Lama kelamaan deposit deposit tersebut tidak ada yang pernah kembali lagi beserta lenyapnya member tersebut. Hal tersebut terjadi berkali-kali dengan member yang berbeda-beda. Jutaan rupiah pun hilang entah kemana. Hal tersebut saya anggap kecelakaan kecil saja dan tidak terlalu saya risaukan karena memang tidak terlalu mengganggu roda bisnis yang saya jalankan. Segala keuntungan bisnis saya putar kembali dalam bentuk penambahan aset. Jadi, peristiwa tersebut belum mempengaruhi perekonomian pribadi/keluarga. Saya hanya mengambil hikmah dari kejadian-kejadian tersebut bahwa bisnis itu memang sarat dengan resiko sebagaimana diceritakan oleh para pebisnis senior. Karena bisnis ini masih dalam skala kecil mungkin belum begitu berpengaruh, bagaimana dengan bisnis yang memang skalanya besar tentu kerugiannya pun bisa lebih banyak. Tapi sebagai pebisnis saya harus kuat mental untuk menghadapi semua kenyataan yang ada baik menguntungkan ataupun merugikan.

Sebagaimana saya kemukakan sebelumnya, pernah juga saya ditinggalkan member karena dia tidak percaya lagi dengan saya. Ceritanya sang member tersebut telah setor dana untuk pengisian deposit. Dan saya menjanjikan keesokan harinya karena memang tempat tinggal saya dengan kantor pos (bank muamalat) lumayan jauh. Kebetulan cadangan deposit yang saya miliki juga sedang menipis sehingga tidak bisa ditransferkan kepada dia. Keesokan harinya diluar duagaan bank sedang error sehingga tidak bisa transfer. Saya pun memberitahukan perihal tersebut kepada member saya dan menjanjikan akan segera ditransfer kalau bank sudah online. Ternyata tiga hari kemudian bank baru online dan sayapun segera menyelesaikan proses transfer deposit. Celakanya deposit yang saya transfer kepada member tersebut tidak sesuai dengan jumlah uang yang dia setor alias lebih kecil nominalnya. Hal tersebut terjadi karena memang saya lupa dan ceroboh. Otomatis sang member pun komplain dan memberitahukan kalau jumlah deposit yang saya kirim kurang. Saya pun minta maaf dan langsung mengirimkan kekurangannya. Namun ternyata itulah terakhir kali dia setor uang deposit dan sejak saat itu tidak pernah menghubungi saya lagi. Padahal dia adalah salah satu member saya yang aktif dan rutin mengisi deposit. Saya pun memahami kalau saya memang salah dalam hal ini.

Sebelum mengakhiri tulisan ini saya kembali mempertegas apa yang saya sampaikan di muka bahwa setiap bisnis selalu membawa resiko jadi sejak awal memang harus siap mental untuk menghadapinya, dan jangan pernah mundur sebelum kesuksesan menghampiri bisnis Anda. Salam Sukses!


Salam Istimewa! 




Minggu, 11 Januari 2009

Menguatkan Titik Landas (Personal Branding part 1)


Jika anda ingin membangun personal brand, pertanyaan pertama yang berkecamuk di pikiran anda pastilah brand seperti apa yang ingin dibuat. Anda sadari atau tidak, inilah sebenarnya pondasi atau titik landas untuk action anda berikutnya. Jika anda mengabaikan poin pertama ini, saya khawatir anda malah terjebak pada kebimbangan. Ujung-ujungnya brand yang anda ciptakan adalah brand semu. Efeknya, brand anda rapuh dan sekali waktu dapat runtuh bahkan melumat anda sendiri.

Apa yang saya utarakan bukan asal ngecap atau menakut-nakuti anda. Sudah banyak contoh bagaimana seorang yang terlihat memiliki brand kuat. Ia demikian kharismatik dan terhormat. Bahkan disanjung dan dipuja di setiap kesempatan. Mendadak jatuh terjerembab ke dalam kondisi yang berbalik 180 derajat. Ia menjadi sedemikian hina bahkan hari-harinya harus dihabiskan dibalik jeruji besi. Itulah setitik akibat jika personal brand yang diciptakan adalah semu.


Pada profesi-profesi tertentu (misalnya guru, pejabat publik, tokoh agama) personal brand dapat secara otomatis melekat pada diri seseorang. Action berikutnya tinggal memelihara dan memolesnya saja. Sayangnya personal brand seperti ini terkadang tidak disadari oleh sang pemilik. Sehingga menjadi penyebab terbanyak kejatuhan dirinya. Tetapi pada profesi tertentu pula (misalnya bisnisman) personal brand harus dibangun dengan susah payah. Itu pun tidak bisa cepat, tetapi memerlukan waktu dan sederet faktor yang harus dilengkapi. Brand yang seperti ini umumnya lebih disadari oleh sang pemilik karena direncanakan dari awal. Resiko jatuhnya brand juga sangat kecil walaupun masih terbuka peluang untuk itu (sebagaimana saya ulas di paragraf satu).

Untuk itu, agar personal branding anda betul-betul efektif dan mencapai target, kuatkan dulu titik landas anda. Caranya adalah dengan menjawab sebuah pertanyaan simpel, brand seperti apa yang ingin anda ciptakan?

Action selanjutnya bagaimana? Oke, simak artikel berikutnya di Personal Branding part 2. Artikel seputar personal branding juga bisa anda baca disini, dan disini.

Salam Istimewa!



Jumat, 12 Desember 2008

Benarkah Reseller Tidak Bisa Kaya?


Saat iseng-iseng browsing artikel tentang bisnis online, saya menemukan sebuah kalimat menarik. Kalimatnya sebenarnya simpel tapi begitu bermakna karena ditulis oleh seorang yang saya ketahui telah sukses dalam internet marketing (maaf saya tidak bisa sebutkan namanya). Sejenak mata saya terpaku pada kalimat argumen itu. Otak saya refleks bekerja menelaah, kira-kira benarkah argumen itu. Lama saya berfikir sambil tetap memandang layar monitor yang memampang kalimat itu.

Anda ingin tahu isi kalimatnya? baik, kalimat itu tertulis ”Yakinlah, Anda tidak akan bisa kaya dengan menjadi reseller!”. Begitulah redaksi kalimat itu ia buat. Sayang, kalimat-kalimat berikutnya tidak ada satupun yang menjelaskan kenapa menjadi reseller tidak bisa membuat seseorang menjadi kaya.

Kawan, sebagai orang yang sedang menjalani profesi sebagai internet marketer dengan spesialisasi program reseller, jelas saya sangat tertohok oleh statemen beliau. Dan mungkin juga Anda yang sedang menekuni bisnis reseller. Statemen tersebut seolah-olah menjadi vonis mati, disaat-saat saya sedang berjuang membangun kerajaan bisnis internet.

Karena ditulis oleh seorang ahli internet marketing, statemen tersebut rasanya begitu dasyat sebagaimana dasyatnya statemen paling populer selama ini, yaitu ”Kalau ingin kaya, jangan jadi karyawan!”. Nah, sekarang Anda tahu sendiri kan, Safir Senduk dengan bukunya yang berjudul ”Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya?” telah membuka mata dan pikiran banyak orang bahwa statemen tersebut tidaklah benar. Sebagaimana Safir Senduk, saya tentu memiliki argumen pribadi untuk mematahkan statemen beliau. Walaupun secara kelas, saya jelas belum selevel dengan beliau.

Bagi saya, bisnis reseller tetaplah menjanjikan uang yang berlimpah. Untuk menjadi kaya itu relatif karena tergantung siapa yang menilai, tapi untuk menghasilkan banyak uang sangatlah mungkin. Bagaimana caranya? Setidaknya ada dua cara yang dapat digunakan oleh seorang reseller agar menghasilkan banyak uang mengalir ke rekeningnya.

Pertama: Kita hanya menjadi reseller satu produk, misalnya SMUO . Lalu kita promosikan sebanyak mungkin (ingat, bisnis apa pun kuncinya tetap promosi) dan konsisten. Semakin gencar kita promosi semakin besar peluang orang membeli produk kita. Ujung-ujungnya uang akan mengalir deras ke rekening kita.

Kedua: Kita menjadi reseller banyak produk. Artinya produk yang kita jual berbagai jenis. Lalu kita promosikan produk-produk kita. Teknik promosi mungkin tidak segencar cara pertama karena sumber uang tidak hanya dari satu produk. Yang penting tetap konsisten berpromosi. Hasilnya akan sama dengan cara pertama, yaitu uang akan berlomba-lomba mencari kapling di rekening kita.

Jadi, tidak ada alasan untuk mundur dari bisnis reseller. Jika Anda membandingkan Anda sebagai Reseller SMUO dengan Joko Susilo selaku pemilik SMUO, jelas jumlah rekening Anda kalah angka dibandingkan beliau. Karena Anda jualan sendiri sedangkan Joko Susilo memiliki ribuan pemasar (reseller). Nah, PR bagi Anda adalah: Kenapa pemilik Carrefour bisa sama kayanya dengan pemilik pabrik setrika Maspion?

Selamat mengerjakan PR hehehe...
Bagi Anda yang ingin membangun kerajaan bisnis reseller, silakan KLIK DI SINI.

Jumat, 28 November 2008

Jangan Beli SMUO,...


Jangan beli SMUO, kalau Anda tidak ingin sukses dalam bisnis internet.
Jangan beli SMUO, kalau Anda tidak ingin saldo rekening Anda bertambah otomatis.
Jangan beli SMUO, kalau Anda tidak ingin jadi bos atas bisnis Anda sendiri.

(Anda masih bingung dengan kalimat saya? Oke, coba sekarang Anda buang kata ”jangan” dan kata ”tidak”. Bagaimana, Anda sudah mengerti makna kalimatnya?)

Pada posting sebelumnya, saya telah merekomendasikan kepada Anda untuk bergabung dalam Formula Bisnis (Forbis). Tapi sebelum Anda bergabung, saya anjurkan Anda memiliki SMUO dulu. Kenapa begitu? Karena dalam Forbis, SMUO menjadi kunci atau ”kitab suci” untuk membuka semua rahasia dan seluk beluk bisnis internet. Jadi jangan terkejut kalau SMUO saat ini dibandrol dengan harga Rp 200.000,- mungkin sejenak Anda ragu, dan berpikir ulang untuk membelinya. Hati Anda akan mengatakan, ”wah kok mahal, jangan-jangan penipuan, dll”. That’s okey, tidak masalah. Saya sepakat dengan Anda bahwa kita perlu hati-hati terhadap segala bentuk transaksi keuangan yang akan kita lakukan. Agar Anda lebih mantap, Saya persilakan Anda berkujung ke Blog Joko Susilo.com

Sekedar sharing, saya sedikit menyesal karena baru membeli SMUO setelah harganya naik menjadi Rp 200.000,-. Padahal dulu pernah menerima penawaran SMUO saat masih bertengger di harga Rp 90.000,- (Kira-kira bulan Februari 2008). Tapi, saya tidak mau menyesal untuk keduakalinya karena menunda membeli SMUO. Jika saya tunda lagi bisa-bisa bandrolnya sudah diganti lagi jadi Rp 500.000,- (begitulah nasib barang bermutu dan laris). Jadi, jika Anda tidak ingin menyesal dan sepakat dengan tiga kalimat pembuka saya di awal maka saya sarankan belilah SMUO sekarang, mumpung belum dibandrol Rp 500.000,-.

Tapi dibalik penyesalan saya, saya harus jujur bahwa harga Rp 200.000,- masih relatif murah untuk sebuah rahasia bisnis besar yang berpotensi menghasilkan omzet Rp 70.000.000,- lebih per bulan. Yakinlah, Anda tidak akan pernah menyesal membeli SMUO sekarang kecuali Anda tidak ingin sukses dalam bisnis internet, tidak ingin saldo rekening Anda bertambah otomatis, dan tidak ingin menjadi bos atas bisnis pribadi Anda. Banyak hal yang akan Anda dapatkan dari SMUO. Intinya, kita diajarkan bagaimana membuat sebuah sistem bisnis yang akan mengalirkan uang ke rekening kita tanpa bisa dicegah lagi. Tapi ingat, Anda jangan berpikir sistem ini seperti sistem sulap merubah kertas koran menjadi uang dalam sekejap, tidak kawan. Sistem ini adalah sistem bisnis, dan intinya bisnis adalah jual-beli, dari jual-beli itulah uang akan mengalir ke rekening kita. Hanya saja, bagaimana semuanya bisa terjadi secara otomatis, inilah yang perlu Anda ketahui. Untuk mengetahuinya, Anda harus memiliki SMUO dulu, oke!

Jangan biarkan pikiran Anda terinveksi virus penasaran, kawan. Jangan buat tidur Anda tidak nyenyak malam ini gara-gara kebelet ingin tahu isi SMUO. Padahal kawan lain sudah asyik memulai ide bisnisnya setelah mempelajari SMUO. Obati saja rasa penasaran Anda sekarang dengan klik di sini.

Satu lagi kawan, walaupun SMUO dirancang sebagai Master Plan/Grand Desain bisnis internet Anda, tapi disajikan dengan bahasa yang sederhana dan terperinci. Tujuannya adalah agar Anda yang bukan berlatar belakang ilmu ekonomi, tetap bisa menjalankan trik-trik yang disiapkan SMUO dengan mudah. Jika ada kesulitan saya siap membantu semampu saya.

Oke kawan, rasanya saya tidak perlu berpanjang lebar lagi pada posting kali ini, tugas saya selaku pengelola blog adalah mereferensikan peluang bisnis untuk Anda. Ambillah peluang ini sekarang dengan klik di sini maka Anda telah memulai langkah pertama dalam bisnis Anda atau ambil peluang ini kapan-kapan saja dengan konsekuensi Anda akan menyesal.

Kamis, 27 November 2008

Guru, Kenapa Anda Alergi Bisnis


Anda masih alergi dengan bisnis, Anda malu, atau merasa tidak punya bakat bisnis. Jika demikian, saya sarankan segera lepas status Anda sebagai guru atau teruskan menjalani profesi Anda sebagai guru dengan tanpa imbalan sepeserpun, ya sepeserpun. Anda mau? Jika tidak, simak baik-baik apa yang akan saya sampaikan berikut.

Kawan, Anda dan saya adalah seorang guru. Kita hidup tidak di alam mimpi, tetapi di alam nyata. Bedanya apa? Kalau di alam mimpi kita tidak perlu makan dan minum, tapi di alam nyata ini kita dihimpit oleh tuntutan hidup seperti makan, minum, sekolah, dan lainnya yang ujung-ujungnya membutuhkan uang. Dan uang tidak akan datang begitu saja tanpa kita cari. Satu-satunya cara mendapatkan uang secara halal adalah dengan berbisnis.

Mungkin Anda akan mengatakan ”Tapi saya kan bukan pebisnis, dan tidak bisa berbisnis”. Menurut saya pernyataan Anda sangat konyol kawan. Sadarkah Anda bahwa Anda sebenarnya adalah seorang pebisnis. Jika Anda merasa tidak pebisnis maka segera kembali ke paragraf awal tulisan ini dan ikuti saran saya.

Kenapa saya katakan Anda adalah seorang pebisnis. Ya, karena dari status Anda sebagai guru Anda mendapatkan imbalan berupa gaji. Secara gamblang saya katakan Anda telah menjual ilmu Anda untuk memperoleh sejumlah uang. Apakah Anda tersinggung, semoga tidak karena saya yakin Anda tidak mau mengajar tanpa dibayar sepeserpun. Jadi, mulai sekarang tidak ada lagi alasan bagi Anda untuk alergi berbisnis, malu, atau merasa tidak punya bakat berbisnis. Tapi sayangnya, uang yang Anda hasilkan dari mengajar (kisaran 1 - 3 juta) ternyata belumlah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup saat ini yang sedemikian tinggi. Sehingga Anda harus mengambil langkah strategis untuk membangun bisnis yang lain di luar guru/pendidikan. Apa itu? Bisnis yang paling saya rekomendasikan adalah bisnis internet. Kenapa? Karena bisnis internet tidak membutuhkan banyak waktu (1 - 2 jam saja per hari), sehingga konsentrasi Anda untuk menjalani profesi guru tetap berlangsung dengan baik.

Dari pengalaman saya, menjalani bisnis di internet tidaklah terlalu susah, boleh terbilang santai. Bahkan kalau Anda sekarang hanya bisa mengetik dan mengakses internet pun sudah cukup bagi anda untuk mulai menjalankan bisnis ini. Banyak bisnis yang bisa Anda pilih di internet. Tapi sebagai pemula, saya sangat menyarankan Anda memilih bergabung dengan Formula Bisnis. Silahkan klik di sini untuk mengetahui apa itu Formula Bisnis.

Di Formula Bisnis Anda dianjurkan memiliki SMUO. SMUO adalah singkatan dari Sistem Mesin Uang Otomatis. SMUO akan memandu Anda step by step dari nol hingga sangat profesional dalam bisnis internet. Bapak Joko Susilo selaku pemilik SMUO yang sekarang berpenghasilan + Rp 70 juta perbulan dan telah menghimpun kekayaan lebih dari 2 milyar dari bisnis internet tidak segan-segan membantu Anda.

Dengan menjalani bisnis di internet, reputasi Anda akan tetap terjaga daripada Anda memilih berbisnis konvensional (misalnya menjual sayur di pasar, satpam, tukang becak, pemulung, bahkan menjual LKS kepada siswa Anda sendiri). Jangan khawatir kawan, saya adalah Guru dan sudah terbiasa menganjurkan yang baik bagi siapa saja apalagi kawan-kawan seprofesi saya.

Jadi, walaupun Anda adalah guru tidak ada salahnya bagi Anda untuk berbisnis karena sesungguhnya Anda adalah seorang pebisnis. Selamat bergabung di Formula Bisnis!