Tampilkan postingan dengan label Mindset Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mindset Bisnis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Januari 2011

BISNIS: Terlalu Percaya, Hati-Hati Kena Batunya

Kepercayaan termasuk faktor yang sangat penting dalam suatu bisnis. Lebih-lebih dalam bisnis online yang minim kontak fisik antara penjual dan pembeli. Tidak mengherankan jika sebagian pelaku bisnis menjaga kuat-kuat kredibilitasnya dengan mencitrakan diri sebagai orang yang bisa dipercaya dan tidak mengingkari kepercayaan yang diberikan. Namun, sebagian yang lain masih saja mencoba-coba bermain api untuk mengabaikan faktor kepercayaan ini. Padahal, sekali saja kepercayaan itu hilang alamat kredibilitas sebagai pebisnis yang akan dipertaruhkan.

Kali ini, saya tidak akan membahas tentang kepercayaan dalam bisnis online karena selama enam bulan terakhir ini saya sedang vakum dari kegiatan tersebut. Walaupun demikian kegiatan bisnis offline dibidang penjualan pulsa elektrik masih tetap eksis hingga sekarang. Dan kali ini saya akan bercerita tentang bagaimana kepercayaan itu penting bagi kelangsungan suatu bisnis. Kebetulan bisnis yang saya jalani sedikit banyak juga berhubungan dengan faktor kepercayaan. Bagaimana saya harus ditinggalkan member karena telat mengirim deposit dan bagaimana saya harus kehilangan aset/modal karena terlalu percaya dengan member. Jadi, simak baik baik ya! mudah-mudahan ini tidak terjadi pada bisnis Anda.

Begini Kisahnya ...

 
Walaupun sebagian besar member saya direkrut secara online karena tersebar seantero negeri ini (hehe..). Tapi saya juga tetap merekrut member secara offline artinya mereka memang langsung kontak fisik dengan saya. Serah terima uang, komplain, dan membicarakan kesulitan-kesulitan dalam menjalani bisnis secara langsung. Member offline saya otomatis adalah kerabat atau kawan-kawan yang bertempat tinggal di sekitar rumah saya. Tapi mereka sudah saya bagi sedemikian rupa sehingga satu wilayah hanya ada satu member agar tidak terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan di kemudian hari.

Dalam hal deposit ada sebagian member yang membayar cas dan langsung saya kirim deposit sesuai permintaan, namun ada juga yang membayar deposit di belakang setelah uang dari para pembeli pulsa terkumpul. Artinya saya seratus persen memodali member tersebut untuk menjalankan bisnis pulsanya.

Karena terlalu percaya pada sang member akhirnya saya pun kena batunya. Deposit-deposit yang saya trasfer dan sudah terjual disetor dalam kondisi berkurang dengan alasan pembelinya belum bayar alias hutang. Lama kelamaan deposit deposit tersebut tidak ada yang pernah kembali lagi beserta lenyapnya member tersebut. Hal tersebut terjadi berkali-kali dengan member yang berbeda-beda. Jutaan rupiah pun hilang entah kemana. Hal tersebut saya anggap kecelakaan kecil saja dan tidak terlalu saya risaukan karena memang tidak terlalu mengganggu roda bisnis yang saya jalankan. Segala keuntungan bisnis saya putar kembali dalam bentuk penambahan aset. Jadi, peristiwa tersebut belum mempengaruhi perekonomian pribadi/keluarga. Saya hanya mengambil hikmah dari kejadian-kejadian tersebut bahwa bisnis itu memang sarat dengan resiko sebagaimana diceritakan oleh para pebisnis senior. Karena bisnis ini masih dalam skala kecil mungkin belum begitu berpengaruh, bagaimana dengan bisnis yang memang skalanya besar tentu kerugiannya pun bisa lebih banyak. Tapi sebagai pebisnis saya harus kuat mental untuk menghadapi semua kenyataan yang ada baik menguntungkan ataupun merugikan.

Sebagaimana saya kemukakan sebelumnya, pernah juga saya ditinggalkan member karena dia tidak percaya lagi dengan saya. Ceritanya sang member tersebut telah setor dana untuk pengisian deposit. Dan saya menjanjikan keesokan harinya karena memang tempat tinggal saya dengan kantor pos (bank muamalat) lumayan jauh. Kebetulan cadangan deposit yang saya miliki juga sedang menipis sehingga tidak bisa ditransferkan kepada dia. Keesokan harinya diluar duagaan bank sedang error sehingga tidak bisa transfer. Saya pun memberitahukan perihal tersebut kepada member saya dan menjanjikan akan segera ditransfer kalau bank sudah online. Ternyata tiga hari kemudian bank baru online dan sayapun segera menyelesaikan proses transfer deposit. Celakanya deposit yang saya transfer kepada member tersebut tidak sesuai dengan jumlah uang yang dia setor alias lebih kecil nominalnya. Hal tersebut terjadi karena memang saya lupa dan ceroboh. Otomatis sang member pun komplain dan memberitahukan kalau jumlah deposit yang saya kirim kurang. Saya pun minta maaf dan langsung mengirimkan kekurangannya. Namun ternyata itulah terakhir kali dia setor uang deposit dan sejak saat itu tidak pernah menghubungi saya lagi. Padahal dia adalah salah satu member saya yang aktif dan rutin mengisi deposit. Saya pun memahami kalau saya memang salah dalam hal ini.

Sebelum mengakhiri tulisan ini saya kembali mempertegas apa yang saya sampaikan di muka bahwa setiap bisnis selalu membawa resiko jadi sejak awal memang harus siap mental untuk menghadapinya, dan jangan pernah mundur sebelum kesuksesan menghampiri bisnis Anda. Salam Sukses!


Salam Istimewa! 




Jumat, 27 Februari 2009

Ada Racun Dalam Program Sekolah Gratis

Cukup menarik saya membaca komentar teman-teman pada artikel kemarin. Ada yang pro dengan sekolah gratis, ada yang kontra, dan ada pula yang abu-abu alias setuju bersyarat. Ya, inilah fenomena dalam berdemokrasi di negeri ini. Buat saya itu tidaklah mengapa, justru saya senang menyimaknya asalkan masing-masing memiliki landasan yang jelas.

Pada artikel kali ini saya akan memenuhi janji saya untuk mengurai benang kusut dalam program sekolah gratis. Pemberlakuan sekolah gratis sendiri bagi bangsa Indonesia secara umum mungkin sebuah impian besar. Hmmm...tentu menyenangkan jika di pagi hari menyaksikan perempatan-perempatan lampu merah sepi dengan anak jalanan. Pasar-pasar sepi dari bujuk rayu kuli-kuli panggul ingusan. Pengamen-pengamen kecil juga tak dijumpai di jam-jam sekolah. Karena mereka semua sedang sibuk dengan aktivitas belajarnya di sekolah. Orang tua pun bisa bekerja dengan nyaman tanpa dibayang-bayangi kekhawatiran dipanggil pihak sekolah untuk ditagih uang SPP.

Sangat wajar dan manusiawi sekali memang. Siapa sih orang yang tidak senang dengan sesuatu yang gratis. Apalagi jika yang gratis tersebut adalah hal yang mendasar bagi kelangsungan hidup. Tapi akankah kita selalu berpikir sependek itu untuk menikmati madu di mulut tapi setelah ditelan ternyata terasa pahit dan esoknya membuat kita sakit. Hati-hati dengan sesuatu yang manis kawan, apalagi terlalu manis. Banyak penyakit yang akan mengikutinya setelah itu. Sekali lagi saya mengajak anda untuk berpikir objektif dan bukan untuk memprovokasi. Sudah terlalu sering bangsa ini tergeragap akibat terlalu banyak menikmati racun yang berbalut madu.

Kenapa Timor-Timur harus hengkang dari negeri ini? Kenapa Sipadan dan Ligitan juga gagal kita pertahankan? Mengapa Pula Blok Cepu harus dipersembahkan kepada bangsa lain? Belum lagi ketidakberdayaan kita yang cuma jadi penonton saja dari kerakusan bangsa lain yang berpesta pora di puncak gunung emas Papua? Apa yang membuat bangsa ini sekilas terlihat besar tapi sebenarnya keropos? Laksana kerbau yang selalu menurut setelah dicocok hidungnya. Atau anjing yang berubah jinak lantaran telah diberi tulang oleh tuannya. STOP!! Ayo hentikan cerita tentang kebodohan kita. Sudah saatnya kita menjadi semakin dewasa dan berpikir cerdas.

Racun Itu Adalah ...
Hati-hati dengan racun yang satu ini. Ia menyelinap dalam tubuh dengan sangat lembut sekali, bahkan hampir tidak pernah disadari. Menyelinap dan mengalir melalui peredaran darah, sampai ke otak dan menyalakan syaraf-syaraf. Ibarat candu, sekali ia masuk ke syaraf dan otak, maka akan sangat susah keluar dari tubuh. Hanya tekad dan kemauan luar bisa yang sanggup mengusirnya dari tubuh. Apa sesungguhnya racun itu? Racun itu adalah ”Mental Gratisan”.

Ya, Mental Gratisan adalah racun yang akan menghancurkan kita dan segala sendi kehidupan ini. Namun sayang, masih sedikit yang menyadari itu. Bahkan sepertinya semakin lestari saja setelah para politisi semakin bergairah mencekokkan mental ini kepada masyarakat. Dan gayung itu pun bersambut dengan sangat baik di benak masyarakat yang sudah hancur lebur secara ekonomi ini.

Tidak banyak orang yang sadar memang dengan hal ini. Bahkan mungkin sang politisi yang menggunakan program sekolah gratis sebagai senjata kampanye. Sekilas sekolah gratis terlihat menguntungkan bagi masyarakat banyak namun ternyata justru merugikan. Ya, merugikan karena bangsa ini belum bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Belum bisa berpikir secara cerdas. Dan mudah sekali latah dengan sesuatu yang baru, tanpa menilai dulu apakah sesuatu yang baru itu baik atau buruk.

Penyakit Akibat Sekolah Gratis
Penyakit ini memang belum terlihat sekarang. Tapi akan terlihat setelah anak didik kita selesai menunaikan sekolahnya. Hal ini memang sudah menjadi tradisi dan karena itulah sudah saya katakan sebelumnya bahwa bangsa ini gampang tergeragap/terkejut lalu menyesal di kemudian hari. Namun mulai sekarang, paling tidak kita tahu bahwa sesuatu yang gratis tidak seluruhnya benar-benar gratis. Sekarang anda boleh berkata pada diri sendiri, ketika anda memberikan ebook atau software gratis di blog anda tidak adakah maksud lain di balik itu? Ketika para caleg membagikan sembako dan kaos gratis, tidak adakah efek tersembunyi yang diharapkan di balik itu?

Jika anda menjawab ”YA” pada dua pertanyaan saya tersebut, tidaklah terlalu menjadi soal karena efek buruknya sangat minim di balik itu. Sayangnya, untuk program sekolah gratis, efek buruknya sangat banyak. Bahkan saya dapat memprediksi bukannya semakin maju bangsa ini, tetapi malah semakin bobrok dan terbelakang. Kenapa bisa begitu? Oke, perhatikan yang saya sampaikan berikut ini:

  1. Sekolah gratis akan menyebabkan bangsa ini bermental gratisan.
    Karena sudah dibiasakan dengan sesuatu yang gratis sejak dini, maka secara tidak sadar akan membentuk pola pikir masyarakat untuk selalu mengharap sesuatu yang gratis. Segala sesuatu akan dinilai baik kalau ada yang gratis. Padahal virus gratis ini jelas tidak berdampak baik bagi perekonomian bangsa. Bandingkan dengan virus beli. Dengan budaya membeli, tentu perekonomian bangsa akan berputar dengan sangat baik. Masyarakat akan semakin maju dan berkembang karena ada uang yang berputar untuk mendongkrak segala lini perekonomian masyarakat. Coba anda lihat betapa negara-negara eropa dan Cina sangat maju, karena budaya beli sangat kental terasa di sana.

  2. Sekolah gratis akan menyebabkan bangsa ini bermental pengemis.
    Terlalu sering berharap yang gratis secara tidak langsung mengubah pola pikir masyarakat menjadi pola pikir pengemis. Berharap mendapat sesuatu tanpa mau mengeluarkan biaya, bukankah itu sama saja dengan mental pengemis? Sekarang mana ada pengemis yang produktif di negeri ini. Mana ada pengemis yang sukses dan jadi miarder. Yang ada, pengemis tetaplah pengemis yang selalu terpinggirkan dalam kehidupan sosial. Apakah anda mau, kelak anak anda menjadi pengemis. Mungkin saja anak anda punya rumah tujuh lantai dan mobil berderet di garasi. Namun jika mentalnya adalah pengemis, sungguh apalah artinya semua itu. Dia akan selalu meminta, pelit bersedekah, dan tidak pernah bersyukur.
    Bukankah lebih baik memiliki mental pemberi daripada penerima. Bukankah tangan di atas selalu lebih baik daripada tangan di bawah. Namun sepertinya, mental pengemis itu sudah dapat kita rasakan saat ini, bukan begitu?

  3. Sekolah gratis akan menyebabkan bangsa ini menjadi pemalas.
    Ini mungkin klimaks dari dua penyakit sebelumnya, yaitu mental pemalas. Kebiasaan memperoleh sesuatu yang gratis tidak akan pernah merangsang kita untuk berusaha dan bersusah payah. Bukankah kita berusaha dan bekerja untuk mendapatkan uang. Dan uang tersebut tentu bukan untuk dijadikan bantal tidur tetapi kita belanjakan. Nah, kalau otak kita sudah terkena virus gratisan, buat apa lagi kita bekerja. Buat apa lagi kita cari uang, toh bisa memperoleh sesuatu yang gratis. Dan tentu, cara terburuk memperoleh yang gratis adalah dengan mengemis.

Dua Kesalahan Besar Sebelumnya
Anda mungkin tidak menyadari jika sudah terjadi dua kesalahan besar dalam sistem pendidikan di negeri ini. Dan sayangnya ini tidak pernah bisa diperbaiki entah sampai kapan.

  1. Kurikulum Pekerja (Kuli)
    Ya, kalau anda mencermati maka kurikulum yang ada sekarang mayoritas hanya menyiapkan anak didik kita sebagai kuli. Jadi setelah lulus sekolah diharapkan ia bisa segera mencari kerja dan menyandang predikat kuli, sekalipun ia memakai jas dan sepatu mengkilap.
    Sangat minim sekolah yang menyiapkan anak didiknya sebagai pengusaha (entrepreneur). Makanya tidak mengherankan jika status pegawai apalagi pegawai negeri sipil sangat terhormat dan diidam-idamkan di negeri ini daripada status pengusaha/pebisnis. Dan sekali lagi sadarkah anda bahwa mentalitas kuli yang dimasukkan dalam kurikulum pendidikan ini sebenarnya adalah warisan zaman kolonial Belanda yang memang menginginkan bangsa ini menjadi tenaga kerja bukan sebagai pengusaha.

  2. Jurusan IPA (Sains) Selalu Menjadi Primadona
    Jujur atau tidak sistem pendidikan kita telah menomorsatukan jurusan IPA. Di sekolah menengah maupun di perguruan tinggi, jurusan sains (IPA) selalu menjadi primadona. Maka tidak mengherankan jika putra-putri kita yang kebetulan berotak cerdas berlomba ingin masuk jurusan sains tersebut. Bukan begitu?
    Nah, sekarang saya akan memberitahukan kepada anda sekali lagi bahwa fenomena tersebut adalah warisan budaya kolonial Belanda. Mereka sengaja memasukkan siswa-siswa yang cerdas tersebut ke jurusan sains agar tidak vokal mengkritisi kebijakan Belanda. Maka dibungkamlah mulut mereka dengan kesibukan sebagai tenaga-tenaga ahli (kuli) yang selalu berkutat dengan angka-angka dan hal-hal teknis. Hingga tidak ada sama sekali kesempatan untuk berpikir masalah sosial dan politik, apalagi menjadi pengusaha dan sudagar.
    Belanda takut memasukkan mereka dalam jurusan Sosial (IPS/Ekonomi) karena khawatir menjadi bumerang dan merongrong keberadaan Belanda di negeri ini. Sekarang coba anda cek, mana ada dokter atau insinyur yang terangsang untuk mencoba kritis terhadap kebijakan politik dan sosial. Padahal mereka adalah manusia-manusia yang cerdas.

Kawan, itulah dua kesalahan besar dalam sistem pendidikan kita. Dan yang diserang oleh keduanya adalah mental/mindset bangsa ini. Akankah sekarang harus dilengkapi lagi dengan program sekolah gratis ini?

Salam Istimewa!







Kamis, 12 Februari 2009

Royal Dalam Urusan Sedekah, Pelit Dalam Urusan Bisnis

Artikel ini masih ada ada hubungannya dengan artikel sebelumnya. Pada artikel sebelumnya, saya menganjurkan Anda untuk mengefektifkan mesin pendongkrak bisnis Anda yang terbukti sangat ampuh, yaitu sedekah. Anda dapat menyimak beberapa bukti dari kawan-kawan bisnis saya, selain itu juga dapat membaca komentar-komentar dari pengunjung yang hampir semuanya punya kisah masing-masing seputar sedekah. Saya rasa itu sudah lebih dari cukup bagi Anda untuk segera memulai bersedekah jika belum, dan konsisten bersedekah jika sudah.

Kali ini, saya akan memberikan satu tips lagi berkaitan dengan urusan bisnis. Tips Ini bukan pendongkrak bisnis Anda sebagaimana sedekah, melainkan mengunci sistem bisnis Anda agar tetap aman dan stabil. Kalaupun toh nanti ternyata bisnis Anda justru ikut terdongkrak juga, anggap saja itu sebagai efek positif. Dan terimalah itu sebagai berkah bagi Anda. Tapi saya lebih yakin kalau terdongkraknya bisnis Anda itu bukan karena tips ini tetapi lewat sedekah yang sudah Anda keluarkan.

Oke, sepertinya tidak perlu bertele-tele lagi segera klik continue reading di bawah ini!

Royal dalam Urusan Sedekah
Saya tertarik dengan komentar Mas Ferdian Adi pada artikel sebelumnya. Tertegun saya membacanya, walaupun itu bukan pengalaman pribadi tapi nilai edukasinya sangat dalam. Dan saya sepakat bahwa dalam urusan sedekah Anda jangan terlalu pelit, dan tidak usah memperhitungkannya. Semakin banyak Anda bersedekah itu semakin baik bagi Anda.

Contoh memperhitungkan sedekah itu misalnya begini:

Hari ini Anda berniat akan berinfak di kotak amal yang ada di masjid-masjid. Uang yang akan Anda infakkan sebesar Rp 10.000,- . Karena mungkin tidak terbiasa, muncul pikiran pelitnya. Wah, kok sepertinya kebanyakan deh sepuluh ribu. Lima ribu saja kan cukup, jadi yang lima ribu bisa untuk ngenet di wartel nanti sore, lumayan kan.
Ingat, pikiran ini akan selalu muncul jika Anda tidak terbiasa bersedekah. Apalagi Anda yang biasa berbisnis. Uang Rp 10.000,- tentu sangat berarti bagi Anda. Pesan saya, mulailah sedekah dengan nominal kecil dulu. Setelah yakin pikiran-pikiran pelitnya hilang, barulah menambah nilai nominal sedekah Anda dengan yang lebih besar. Yang perlu Anda tahu bahwa sedekah itu yang penting justru pada kadar keikhlasannya. Nilai sedekah Anda akan memberi efek balik setelah Anda betul-betul ikhlas . Jadi bagi Anda yang sudah bersedekah tapi kok belum memberi efek balik, tolong lebih ikhlas lagi. Anda sudah tahu ikhlas bukan? Gampangnya seperti Anda (maaf) ”buang hajat”, pasti Anda betul-betul ikhlas melakukannya bahkan mungkin berangkatpun sambil berlari. Namun setelah selesai menunaikannya, saya yakin tidak ada satu orang pun dari Anda yang berkeinginan mengingat-ingat lagi apa yang sudah Anda keluarkan itu. Nah, usahakan seperti itu keikhlasan Anda dalam bersedekah.


Jadi, dalam urusan sedekah usahakan Anda berlaku royal. Jika Anda royal dalam sedekah, yakinlah Allah SWT juga akan royal mengalirkan kran rizki-Nya kepada Anda. Sebaliknya jika Anda pelit dalam urusan sedekah, bersiap-siaplah kran rizki Anda pun akan dikecilkan, bahkan disumbat oleh-Nya.

Pelit dalam Urusan Bisnis
Nah, ini kebalikan dari sedekah di atas. Kali ini saya sangat-sangat menganjurkan Anda berlaku pelit dalam urusan bisnis. Pada komentar-komentar saya di blog kawan-kawan juga sering saya katakan bahwa Bisnis Is Bisnis. Artinya apa? Jika Anda bertekad serius berbisnis, tidak ada nilai tawar bagi Anda selain harus berlaku pelit. Anda terkejut dengan statemen saya? ah...semoga Anda mengerti setelah membaca yang berikut:

Saya mengenal teknik pelit ini setelah membaca buku berjudul Membuka Toko karya Frans M.Royan. Anda bisa mendapatkan buku tersebut di toko-toko buku, kalau masih ada. Bukunya ukuran kecil dan harganya di bawah Rp 30.000,- namun ilmunya sungguh luar biasa. Mungkin sudah ada sepuluh kali saya membaca buku tersebut karena sangat kayanya ilmu bisnis yang terkandung di dalamnya. Termasuk tentang ilmu pelit ini.
Di dalam buku tersebut ada dua bab khusus yang berjudul Belajar Sukses dari Etnis Tionghoa (maaf tidak ada maksud rasialis). Anda tahu sendiri kan bagaimana trend bisnis etnis Tionghoa di Indonesia. Rata-rata menunjukkan sukses besar, dan rata-rata bermula dari toko keluarga. Kenapa mereka bisa sesukses itu? Di buku tersebut di uraikan tips-tipsnya dalam dua bab khusus, salah satunya adalah Meminta Kembalian Walaupun Cuma Satu Sen. Hah, satu sen aja diminta, uedan tenan! Maaf, yang ini gaya bicara orang kita yang sendiko dawuh saja ketika membeli sesuatu lalu kembaliannya dikasih permen.
Satu sen atau satu rupiah bagi pebisnis Tionghoa sangatlah berharga. Tapi percayakah Anda dari satu rupiah demi satu rupiah yang mereka kumpulkan justru mengamankan kondisi keuangannya. Sekali lagi jangan pernah berfikir mereka pelit, mereka hanya meletakkan mindset bisnis yang benar, yaitu Bisnis Is Bisnis.


Nah, strategi pelit itulah yang harus Anda tanamkan dalam mindset Anda ketika berbisnis. Saya pun juga demikian. Makanya, ketika Mas Agung Jatnika dalam artikel saya yang berjudul Bisnis Pulsa Ternyata Menguntungkan Lho!, menyindir kenapa Nyokap juga harus beli pulsa yang saya jual, saya sudah mengukur sejauh mana efektifitas beli itu bagi bisnis saya. Dan sudah saya jelaskan kepada Mama bahwa ini demi kelangsungan bisnis pulsa saya, dan beliau cukup mengerti itu. Sekedar mengulang jawaban kemarin, bahwa jangankan Mama, saya pun ketika butuh pulsa juga tetap dihitung pembelian, dan tetap melakukan pembayaran walaupun kas keuangan saya sendiri yang memegangnya.

Mengenai tata cara bisnis semacam ini juga saya pelajari dari bos saya dulu sewaktu masih bekerja di restoran. Ketika beliau atau anggota keluarganya makan di restorannya itu, selalu berlaku seperti pengunjung biasa. Setiap makanan yang ia pesan selalu dibayarnya di kasir. Pertama agak heran saya kenapa bisa begitu. Bukankah ini restoran milik dia, kenapa mesti membayar segala, bukankah bisa saja tinggal pesan makanan sepuasnya setelah kenyang langsung ngacir. Oh, setelah mengetahui rahasianya, saya baru tahu bahwa di bisnis pribadi pun kita tetap harus berhitung agar tidak terjadi masalah kas keuangan.

Jadi, jika Anda ingin bisnis Anda tetap langgeng dan cepat berkembang jangan pernah beri toleransi pada hal-hal yang bisa mengganggu kondisi keuangan bisnis Anda. Misalnya, menggunakan aset/modal untuk kepentingan sendiri yang tidak produktif, memberi toleransi terlalu lama terhadap hutang, tidak melakukan pembukuan secara rapi, dan lain sebagainya.

Oke, mudah-mudahan artikel ini dapat bermanfaat bagi Anda. Anda pun boleh berbeda pendapat dengan saya. Silakan saja tuangkan argumen Anda pada kolom komentar di bawah artikel ini. Terimakasih!

Salam Istimewa!