Kepala Sekolah adalah jabatan yang sangat strategis di lingkungan sekolah. Ibarat perusahaan dia adalah manajernya, ibarat kapal ia adalah nakhodanya, dan ibarat kereta dia adalah masinisnya. Singkat kata Kepala Sekolah adalah The Man of Maker roda kehidupan di sekolah. Baik buruknya pengelolaan suatu sekolah ada pada tangan dingin dan otak jernih sang Kepala Sekolah.
Begitu vitalnya peran seorang Kepala Sekolah hingga sebagian besar guru begitu mengimpi-impikan jabatan tersebut. Ada persepsi umum bahwa dengan menjadi Kepala Sekolah akan menaikkan status sosial, banyak relasi, memiliki kekuasaan, dan sebagian kecil diantaranya mempersepsikan Kepala Sekolah otomatis banyak uangnya.
Padahal tentu tidak serta merta persepsi tersebut dapat dibenarkan ataupun disalahkan. Ada baiknya dalam menilai suatu persepsi mengutamakan unsur objektifitas berdasarkan realita yang ada. Jangan sampai terjebak pada alur persepsi yang keliru hanya dikarenakan penilaian secara parsial dan subjektif.
Mari sejenak membuka diri dan cakrawala berpikir untuk bersama membedah maksud judul artikel ini. Pada judul tersebut terdapat dua variabel yaitu ”anugerah” dan ”bencana” yang melekat pada jabatan Kepala Sekolah. Betulkah demikian?
Menjadi Kepala Sekolah adalah Anugerah
Realita menunjukkan bahwa Jabatan Kepala Sekolah memang memberikan efek berbeda dan cukup signifikan pada profil penyandangnya. Bila sebelumnya ia kurang dikenal mendadak menjadi terkenal; Memiliki banyak relasi terutama di bidang pendidikan; Memiliki kekuasaan untuk mengatur dan mengendalikan roda kehidupan di sekolah; Memiliki kewenangan dalam hal anggaran sekolah; Mengangkat status sosial di mata masyarakat. Dan lain sebagainya yang tentunya kesemuanya mengarah pada pemenuhan nilai tambah pada diri sang Kepala Sekolah.
Hal itulah yang dikatakan sebagian orang sebagai sebuah anugerah, yaitu sebuah nilai kebaikan yang seolah-olah datang dari langit dan patut disyukuri. Hingga tidak mengherankan bila banyak guru yang berambisi mengejar jabatan tersebut. Baik dengan cara yang lumrah sesuai dengan prosedur yang ada, maupun dengan cara-cara yang sedikit kotor. Misalnya dengan menjilat atasan, sikut sana sikut sini, nepotisme, kolusi, menyuap dan lain sebagainya. Memang patut disayangkan, namun itulah realita kehidupan dan warna-warni pribadi manusia yang turut mewarnai ranah pendidikan di negeri ini.
Menjadi Kepala Sekolah adalah Bencana
Posisi strategis sebagai pengandali sekolah otomatis menuntut adanya sikap, pemikiran, dan perlakuan yang ekstra dari Kepala Sekolah. Setiap saat akan sibuk dengan berbagai rencana-rencana dalam mewujudkan visi dan misinya. Sibuk dengan berbagai masalah baik masalah di kalangan siswa, antarguru, dan juga dengan atasan yang kesemuanya menuntutk penyikapan yang bijaksana. Terkadang pula bekerja tanpa kenal waktu yang pada akhirnya merampas hak-hak pribadinya untuk hidup secara normal. Kesalahan dalam pengelolaan keuangan sekolah juga dapat menjadi bumerang yang sewaktu-waktu siap menyeretnya masuk penjara. Dan satu lagi, seorang teman yang kebetulan seorang Kepala Sekolah mengatakan bahwa ”Ketika seseorang menjadi Kepala Sekolah itu ibarat masuk dalam lingkaran setan”. Apa maksudnya? Ini terkait dengan praktik suap-menyuap yang sudah mendarah daging di negeri ini. Sangat sulit untuk menghindar dari praktik seperti itu karena taruhannya adalah kelangsungan hidup sekolah yang dipimpin. Bila ’keukeuh’ dengan idealisme pribadi, maka lambat laun ’tamatlah’ riwayat sekolahnya. Program-program sekolah yang terkait dengan pembiayaan dari pemerintah akan macet begitu pula dengan bantuan-bantuan yang bersumber dari anggaran negara.
Demikian sulit dan beratnya beban yang harus ditanggung dan dijalankan oleh seorang Kepala Sekolah sehingga ada yang mempersepsikan bahwa Jabatan Kepala Sekolah sama dengan sebuah bencana. Tidak ada yang menarik dari sebuah istilah bernama ”bencana”. Yang ada justru setumpuk kesedihan, kegelisahan, ketakutan, kesakitan, dan perasaan tidak menyenangkan lainnya yang datang silih berganti.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin menyuguhkan sebuah persepsi umum lain kepada Anda bahwa jabatan apapun itu akan selalu diiringi dengan resiko. Para profesional sering mengatakan hal tersebut dengan kalimat pendek ” itulah resiko sebuah pekerjaan ”. Artinya, bila Anda takut dengan resiko, berarti Anda jangan pernah coba-coba mengambil jabatan/pekerjaan tersebut. Sekarang kembali kepada Anda, ada di persepsi mana Anda menempatkan diri.
Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 22 Januari 2011
Selasa, 08 Desember 2009
Download Prediksi Soal UN 2010
Halaman Download Prediksi Soal UN 2010 ini saya persembahkan kepada para pendidik maupun siswa-siswi dari jenjang SD hingga SMA yang sebentar lagi akan menempuh Ujian Nasional (UN) maupun Ujian Akhir Berskala Nasional (UASBN). Walau kita ketahui bahwa pelaksanaan UN tahun 2010 masih simpang siur pasca putusan MA tempo hari, tapi Mendiknas Moh.Nuh telah menegaskan bahwa tahun 2010 akan tetap digelar Ujian Nasional. Keputusan tersebut diambil setelah menelaah amar putusan MA yang tidak mencantumkan secara jelas mengenai pelarangan Ujian Nasional. Dengan demikian, seluruh sekolah diimbau agar tetap mempersiapkan peserta didiknya untuk mengikuti Ujian Nasional tahun depan (2010).Menindaklanjuti imbauan tersebut, sudah jamak pihak sekolah akan sibuk mempersiapkan segala sesuatuanya jauh-jauh hari. Termasuk diantaranya adalah memberikan jam belajar tambahan kepada peserta didiknya yang berada di kelas akhir. Biasanya tiga bulan menjelang Ujian Nasional digelar, pelajaran tambahan sudah mulai dijadwalkan di masing-masing sekolah.
Melalui blog ini, kami menyuguhkan beberapa bahan berupa soal-soal prediksi Ujian Nasional yang dapat digunakan oleh para guru maupun peserta didik. Silakan di download, semoga bermanfaat!
SEKOLAH DASAR (SD)
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)
- Download Soal Matematika 1, Soal Matematika 2, Soal Matematika 3
- Download Soal Bahasa Indonesia , Try Out Bahasa Indonesia
- Download Soal Bahasa Inggris , Try Out Bahasa Inggris
- Download Soal IPA
- Download Soal IPS
- Download Soal PPKN
SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
- Download Soal Bahasa Indonesia
- Download Soal Bahasa Inggris
- Download Soal Biologi
- Download Soal Matematika IPS
- Download Soal Ekonomi
- Download Soal Antropologi
- Download Soal Geografi
- Download Soal Fisika
- Download Soal Matematika IPA
- Download Soal Kimia
- Download Soal Tata Negara
- Download Soal Sosiologi
Salam Istimewa!
Label:
Pendidikan,
Sekolah,
Siswa
Kamis, 13 Agustus 2009
Buat Apa Sekolah?
Seorang ibu berkata pada anaknya" Nak kalau sudah besar kamu harus jadi pegawai negeri sipil (PNS) biar hidupmu tidak susah, jangan meniru bapak dan ibumu yang tiap hari harus jualan sayur kepasar, biar bapak dan ibu saja yang bodoh dan susah cari uang liat tetangga kita itu sekolahannya tinggi coba lihat hidupnya enak kamu harus mencontoh dia" . Sementara di lain pihak seorang ibu berkata " Buat apa sekolah tinggi-tinggi ? dokter sudah ada, menteri sudah ada, guru banyak, presiden sudah ada, mendingan uang sekolahmu dibelikan sapi biar beranak-pinak lebih jelas hasilnya dari pada harus dibayarkan untuk sekolah, coba lihat si lukman itu sekolah jauh-jauh tapi setelah selesai nganggur dan akhirnya sekarang jadi sopir angkutan.." !Sadar atau tidak, ditingkatan masyarakat opini yang terbangun mengenai dunia pendidikan (sekolah) seperti yang diilustrasikan diatas. Masyarakat menilai bahwa salah satu alat keberhasilan seseorang bersekolah adalah sejauh mana dia mampu membawa dirinya pada status sosial yang tinggi di masyarakat indikasinya adalah apakah seseorang itu bekerja dengan berpenampilan elegan (berdasi, pake sepatu mengkilap, dan membawa tas kantor) atau tidak, dan apakah seseorang tersebut bisa kaya dengan pekerjaannya? Kalau seseorang yang telah menempuh jenjang pendidikan (SLTA, D1, D2, D3, S1, S2, dan S3) lulus dan setelah itu menganggur maka dia telah gagal bersekolah. Hal semacam inilah yang sering ditemui di masyarakat kita.
Mencermati hal diatas, apakah memang praktik-praktik pendidikan yang selama ini dijalani ada kesalahan proses?, mengapa dunia pendidikan belum bisa memberikan pengaruh pencerahan di tingkatan masyarakat, lantas apa yang selama ini dilakukannya oleh dunia pendidikan kita? kalaupun yang diopinikan masyarakat itu adalah kesalahan berpikir, mengapa kualitas pendidikan di Indonesia tidak lebih baik dari negara lainnya, bukankah setiap hari upaya perbaikan pendidikan terus dilakukan mulai dari seminar sampai dengan pembuatan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional? Atau inilah yang dimaksud oleh Ivan Ilich bahwa "SEKOLAH itu lebih berbahaya daripada nuklir. Ia adalah candu! Bebaskan warga dari sekolah."
Jelasnya pendidikan (sekolah) bukanlah suatu proses untuk mempersiapkan manusia-manusia penghuni pabrik, berpenampilan elegan apalagi hanya sebatas regenerasi pegawai negeri sipil (PNS), tapi lebih pada upaya bagaimana memanusiakan manusia. Tentunya proses tersebut bukan hal yang sederhana butuh komitmen yang kuat dari setiap komponen pendidikan khususnya pemerintah bagaimana memposisikan pendidikan sebagai investasi jangka panjang dengan produk manusia-manusia masa depan yang hadal, kritis dan bertanggung jawab. Kalau dunia pendidikan hanya diposisikan sebagai pelengkap dunia industri maka bisa jadi manusia-manusia Indonesia kedepan adalah manusia yang kapitalistik, coba perhatikan menjelang masa-masa penerimaan siswa/mahasiswa tahun ajaran baru dipinggir jalan sering kita temukan mulai dari spanduk, baliho, liflet, brosur, pamlet dan stiker yang bertuliskan slogan yang kapitalistik seperti "Lulus dijamin langsung kerja, kalau tidak uang kembali 100%, adapula yang bertuliskan "sekolah hanya untuk bekerja, disini tempatnya" apalagi banyaknya sekolah-sekolah yang bergaya industri semakin memperparah citra dunia pendidikan yang cenderung lebih berorientasi pada pengakumulasian modal daripada pemenuhan kualitas pelayanan akademik yang diberikan.
Jadi, tidak mengherankan kalau di tingkatan masyarakat memandang dunia pendidikan (sekolah) sampai hari ini seperti layaknya sebagai institusi penyalur pegawai negeri sipil (PNS) indikasi dari pandangangan tersebut bisa dilihat bagaimana animo masyarakat yang cukup tinggi ketika pembukaan pendaftaran calon pegawai negeri sipil (CPNS) seolah-olah status/gelar akademik yang mereka capai (D1,D2,D3,S1,S2, dan S3) hanya cocok untuk kerja-kerja kantoran (PNS) hal inipun merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tingkat pengangguran kaum terdidik setiap tahunnya bertambah sebab kesalahan motiv sekolah sebagai akibat dari prilaku sekolah yang kapitalistik akhirnya banyak melahirkan kaum terdidik yang bermentalitas "Gengsi gede-gedean"
Beberapa hal diatas setidaknya menjadi renungan bagi dunia pendidikan kita bahwa pendidikan bukanlah sesederhana dengan hanya mengumpulkan orang lantas diceramahi setelah itu pulang ke rumah mengerjakan tugas besoknya ke sekolah lagi sampai kelulusan dicapainya (sekolah berbasis jalan tol), kalau aktivitas sekolah hanya monoton semacam ini maka pilihan untuk bersekolah merupakan pilihan yang sangat merugikan akan tetapi kalau proses yang dijalankannya tidak seperti sekolah jalan tol maka pilihan untuk beinvestasi di dunia pendidikan dengan jalan menyekolahkan anak-anak kita merupakan pilihan yang sangat cerdas. Oleh sebab itu sudah saatnya dunia pendidikan kita mereformasi diri secara serius khususnya bagaimana pembelajaran di sekolah itu bisa dijalankan melalui prinsip penyadaran kritis sehingga melalui kekuatan kesadaran kritis bisa menganalisis, mengaitkan bahkan menyimpulkan bahwa persoalan kemiskinan, pengangguran, dan lainnya merupakan persoalan sistem bukan karena persoalan jenjang sekolah. Inilah yang seharusnya menjadi muatan penting untuk diinternalisasikan di setiap diri siswa.
So, lemaskan lagi alis anda, lepas kembali kerutan yang tegang sedari tadi di kening anda, karena saatnya kembali saya bertanya kepada anda:
Buat apa sekolah?
Ditata ulang dari: Artikel Pendidikan Network
Terimakasih dan Salam Istimewa!
Label:
Sekolah
Sabtu, 25 Juli 2009
Salahkah Jika Terlalu Dekat Dengan Murid
”TERLALU” kata itu bisa bermakna positif dan bisa bermakna negatif. Tergantung dari sudut mana kita menafsirkannya. Terlalu banyak makan, terlalu banyak tidur, terlalu banyak tertawa, terlalu banyak berkhayal, terlalu banyak istri, terlalu banyak anak, tentu semuanya memiliki konotasi yang negatif. Sekarang coba bandingkan dengan terlalu banyak duit, terlalu banyak teman, terlalu banyak rumah, terlalu banyak sedekah, terlalu tampan, terlalu rapi, terlalu bersahabat, untuk yang ini anda pasti langsung bisa memberikan konotasi yang positif.Permasalahannya sekarang adalah bagaimana kalau terlalu dekat dengan murid. Dalam arti tidak ada kesenjangan yang begitu kentara antara si guru dan si murid dalam hubungannya. Okelah, dalam porsi status bisa saja sangat berbeda, satunya punya status guru dan satunya lagi statusnya murid. Namun mereka tidak menjadikan status itu sebagai pembatas sehingga mengahalangi keduanya untuk intens berkomunikasi maupun bergaul.
Pada kasus seperti ini tidak jarang akhirnya terjadi silang pendapat. Ada yang merasa itu sah-sah saja asalkan masing-masing tahu batasannya. Namun tidak sedikit pula yang melarang dengan alasan bisa merusak citra guru dan tidak mendidik. Ketika seorang guru sudah terlanjur dekat dengan muridnya, bisa saja siswa tidak lagi punya rasa hormat dengan gurunya. Bertemu dan menyapa gurunya di lingkungan sekolah layaknya teman saja. Atau terlalu dekatnya guru dengan murid akhirnya timbul jalinan asmara antara guru dengan murid yang bisa saja dianggap aib oleh sekolah. Bisa pula kedekatan tersebut dimanfaatkan guru untuk minta kepada siswanya dibawakan ini itu (misalnya makanan) dari rumah. Pada sisi yang lain, kedekatan siswa dengan guru juga bisa pula dimaksudkan pada hal-hal yang positif. Misalnya agar siswa lebih enjoy mengikuti pelajaran yang diberikan. Agar siswa tidak malu/takut bertanya kepada gurunya jika ada materi yang sulit dimengerti. Agar siswa merasa diperhatikan dan ditampung segala keluh kesahnya selama di sekolah maupun di rumah. Agar guru dapat mengetahui dan uptodate dengan perkembangan pergaulan remaja saat ini. Dan lain sebagainya.
Dan ini Tentang Saya ...
Sejak saya dinobatkan sebagai guru dan mulai bergaul dengan siswa secara tidak sadar saya menjadi begitu dekat dengan siswa. Ada perasaan bangga dan senang saat saya bisa masuk dalam dunia mereka. Mengetahui topik-topik apa yang mereka bicarakan. Mengetahui apa aktifitas mereka sepulang sekolah. Bisa menghadiri undangan ulangtahun yang mereka rayakan bersama teman-temannya. Bernyanyi dan bercanda bersama. Rujakan dan bakar ikan bareng-bareng. Bahkan tidak jarang kita bisa rame-rame nonton film yang lagi in di bioskop.
Dalam hubungan semacam itu tidak terlintas sedikitpun di benak saya untuk memilih dan membeda-bedakan mereka. Anak yang mungkin oleh guru lain dianggap nakal dan bodoh, di mata saya mereka sangat istimewa. Dan anehnya, setelah saya mendekati anak-anak yang di sekolah dicap nakal/bebal tersebut, mereka ternyata sangat menyenangkan, hangat, dan hormat. Itulah yang terkadang membuat saya semakin penasaran dan ingin masuk lebih dalam dan lebih dekat pada dunia mereka.
Maklumlah, sebagai guru muda yang secara usia tidak terpaut jauh dan secara status juga masih single bagi saya bukan masalah sulit untuk meluangkan waktu bersama mereka. Namun demikian, secara pribadi saya tetap punya batas (privasi) yang tidak boleh dilanggar. Dan sebagi guru, saya juga komit untuk bersikap profesional selama kegiatan belajar mengajar di sekolah. Tidak ada perlakuan istimewa apapun untuk ”sahabat-sahabat kecilku” itu. Saya bertugas mengajar dan mereka belajar. Saya sebagai Guru dan mereka Murid. Dan alhamdulillah...selama ini tidak ada masalah terkait hal itu. Justru saya semakin semangat mengajar (karena ingin selalu bersama mereka) dan merekapun terlihat antusias mengikuti pelajaran saya.
Namun, hari-hari ini hati saya menjadi gundah lantaran tersiar kabar di televisi. Ada demo anak-anak sekolah di salah satu SMA dan SMK. Mereka tidak terima guru-gurunya dimutasi ke sekolah lain. Berdasarkan informasi, pemutasian tersebut dilakukan atas alasan karena guru-guru tersebut terlalu dekat dengan muridnya.
Bagaimana menurut anda kawan?
Salam Istimewa!
Label:
Sekolah
Minggu, 19 Juli 2009
SEKOLAH BONAFID + FAVORIT = ………. ( DANA BESAR )
Mendengar istilah sekolah bonafid yang tergambar di benak saya adalah sekolah yang secara fisik sangat megah, bersih, dan fasilitasnya lengkap. Secara nonfisik pastilah kurikulum dan sistem kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut sangat baik, tertib, dan berkualitas.Sejauh ini saya hanya mampu membayangkan saja, maklum sampai detik ini belum pernah bertugas mengajar di sekolah dalam kategori bonafid/favorit. Beberapa sekolah yang pernah saya singgahi (mencicipi mengajar) adalah sekolah biasa saja (standar). Dari segi fisik maupun kurikulum dan sistem KBM-nya tidak ada yang istimewa.
Namun demikian, ada cerita-cerita dari beberapa saudara dan keponakan yang kebetulan berhasil diterima di sekolah bonafid. Yang pertama kali mereka bahas bukanlah fasilitas sekolah atau kegiatan belajar mengajar, melainkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan orangtuanya setelah diterima di sekolah tersebut. Walaupun awalnya agak mengeluh, namun sepertinya orang tua mereka cukup maklum dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Jika memang ingin anaknya bersekolah di sekolah bonafid maka harus siap dengan konsekuensi besarnya biaya yang harus ditanggung. Hmmmm...bener gak yaa...?
Apa Maksud Saya Menulis Topik Ini?
Hmmm...begini kawan, sebagai penghayal sejati (hehehe...) saya bermimpi (bukan ngorok nih) suatu saat nanti saya bisa mendirikan sebuah sekolah bonafid/favorit yang memiliki manajemen, kurikulum, sistem KBM, dan fasilitas belajar yang lengkap. Tentunya bangunannya juga sangat megah, sehingga baru lihat gapura sekolah saja, langsung tercipta image bahwa sekolah saya adalah sekolah bergengsi.
Masalah mutu siswa baik input maupun output gak perlu ditanya lagi, karena yang pasti saya memasang standar dan target tinggi untuk hal yang satu itu. Pokoknya, tidak perlu berpikir dua kali deh untuk studi di sekolah saya. Double money back guarantee sudah saya siapkan jika sekeluarnya dari sekolah saya tidak mencapai prestasi belajar di atas rata-rata.
Bagaimana kawan, hebat sekali kan mimpi saya? Nah...berhubung itu baru sebatas mimpi saja, ada beberapa uneg-uneg yang sejak tadi menggumpal di otak saya. Sekaligus menjadi PR bagi anda untuk membantu saya mencairkan uneg-uneg ini.
- Jika ingin mendirikan sekolah bonafid maka dibutuhkan dana yang cukup besar. Selain dari dana pribadi, sumbangan dermawan, tentunya juga hasil pungutan dari wali murid yang jumlahnya cukup besar.
- Jika tidak punya dana besar, atau tidak ingin memungut dari wali murid dengan nominal yang besar tidak usah deh mendirikan sekolah bonafid. Karena di mana-mana yang namanya sekolah bonafid selalu identik dengan biaya yang mahal. Boleh dicek di lapangan...mana ada sekolah bonafid yang gratis.
- Mendirikan sekolah bonafid dengan biaya SPP yang cukup mahal gak masalah. Lanjutkan...!!. Kalau reward yang diterima betul-betul sebanding dengan fulus yang dikeluarkan, pastilah akan tetap menjadi sekolah rebutan. Gak percaya? Coba deh dicek ke sekolah-sekolah bonafid yang plafon SPP-nya selangit, tetep tuh dijejali pendaftar sepanjang tahun ajaran baru.
- Ups...hampir ketinggalan.Bagi calon siswa dari keluarga kurang mampu, tetap ada jatah kursi kok buat kalian. Kira-kira 10 persen lah dari total bangku kosong yang saya sediakan. Gak usah khawatir! khusus kalian, semuanya gratis. Manajeman sudah mengatur sistem subsidi silang untuk men-cover seluruh kebutuhan kalian.
Gimana kawan, ada pendapat?
Salam Istimewa!
Label:
Sekolah
Sabtu, 13 Juni 2009
Termehek-Mehek Di Sekolah
Kelulusan Ujian Nasional di 33 SMA dan 1 SMK adalah 0%Pada sebagian sekolah menangah atas (SMA), pengumuman kelulusan Ujian Nasional (UN) jatuh pada hari ini Sabtu, 13 Juni 2009. Namun sebagian sekolah lain pengumuman kelulusan baru dilaksanakan hari Senin dan Selasa (15-16 Juni) besok. Jadwal pengumuman kelulusan siswa SMA untuk tahun ini memang tidak bisa serempak sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Hal itu dikarenakan beberapa sekolah masih harus mengikuti Ujian Nasional Pengganti.
Sebagaimana diberitakan media massa beberapa waktu lalu bahwa Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menemukan adanya 33 SMA dan 1 SMK se-Indonesia yang prosentase kelulusannya adalah 0% alias siswanya tidak lulus semua. Berdasarkan rumor yang berkembang ada beberapa alasan yang menyebabkan kelulusan di 33 SMA tersebut adalah 0%. Diantaranya, kertas Lembar Jawaban Komputer (LJK) yang tidak bisa dipindai dengan baik, pemindaian menggunakan kunci jawaban yang berbeda, adanya oknum Guru yang memberi kunci jawaban salah, dan siswa yang memperoleh bocoran jawaban salah dari pihak luar. Entah mana yang benar, yang jelas seluruh siswa di 34 sekolah tersebut terpaksa harus mengikuti Ujian Nasional Pengganti.
Sebelumnya, Ujian Nasional Pengganti tersebut sempat menimbulkan pro dan kontra antara Mendiknas dan DPR. Karena sebenarnya dalam Prosedur Operasional Standar (POS) Ujian Nasional 2009 tidak dikenal istilah Ujian Nasional Ulang. Yang ada hanyalah Ujian Nasional Susulan, itupun khusus diperuntukkan bagi siswa yang kebetulan berhalangan (sakit) saat Ujian Nasional (UN) berlangsung. Sedangkan bagi siswa yang sudah mengikuti UN namun tidak lulus, mereka diberi kesempatan mengikuti Ujian Kejar Paket C atau Mengikuti Ujian Nasional pada tahun berikutnya. Namun, setelah Mendiknas ngotot agar bisa dilaksanakan Ujian Nasional Ulang untuk 34 sekolah tersebut akhirnya DPR mengalah. Nah, karena Ujian Nasional Ulang tidak diatur/dikenal dalam POS UN 2009, maka namanya pun dibuat Ujian Nasional Pengganti (hehe...bisaaa.. aja). Dan sejak hari Rabu, 10 Juni yang lalu para siswa kelas XII di 34 sekolah tersebut sudah mengikuti Ujian Nasional Pengganti. Bagaimana hasilnya? Kita tunggu saja, semoga menggembirakan.
Kelulusan: Terbahak-Bahak atau Termehek-Mehek?
Dalam menyambut kelulusan siswa, ada yang tertawa terbahak-bahak dan ada pula yang menangis sampai termehek-mehek. Dan sepertinya akan menjadi ritual tahunan dalam bidang pendidikan di negeri ini. Sebuah pemandangan paradoks yang selalu muncul baik di media massa cetak maupun elektronik saat pengumuman kelulusan tiba. Biasanya, media massa akan lebih banyak mengekspos yang termehek-mehek daripada yang terbahak-bahak. Anda yang menyaksikan pemandangan tersebut bisa jadi akan merasa iba, ikut sedih, bahkan mungkin ikut termehek-mehek melihat siswa yang begitu histeris saat mengetahui dirinya tidak lulus.
Sebagai ekpresi lanjutan. Mereka yang terbahak-bahak ada yang corat-coret baju seragam, semir atau cat semprot rambut dengan beraneka warna, konvoi di jalanan kota, dan lain sebagainya. Sedangkan yang termehek-mehek biasanya akan mengurung diri di kamar, mogok makan, atau membuat formasi kapal pecah di rumahnya.
Sekedar berbagi cerita, pernah suatu kali saya bertugas mengantarkan pengumuman kelulusan siswa ke rumahnya. Saat mengantarkan pengumuman kelulusan yang kebetulan siswa itu lulus, rasanya tidak ada beban bahkan dengan senang hati saya memberikan kabar gembira itu kepada siswa dan keluarganya. Namun begitu giliran mengantarkan pengumuman siswa yang tidak lulus, dibutuhkan ketegaran luar biasa untuk melakukannya. Betapa tidak, mereka jelas menunggu-nunggu kedatangan pengumuman itu di rumahnya. Namun apa lacur saat pengumuman yang dinanti-nanti itu berupa kabar buruk. Dan kabar buruk itu yang membawa adalah kita, hmmm..rasanya sangat berat langkah kaki ini. Tapi bagaimanapun juga, mau-tidak mau pengumuman itu harus diantarkan juga.
Dan, tahukan anda apa yang terjadi setelah pengumuman dalam aplop tertutup itu ia baca? Wah..dapat ditebak siswi (kebetulan ia perempuan) tersebut langsung menangis sejadi-jadinya hingga berguling-guling di lantai. Seluruh keluarganya pun ikut menangis melihat kenyataan tidak menyenangkan itu. Bahkan yang tidak pernah saya duga sebelumnya, siswi tersebut berlari ke dapur dan memporak-porandakan seluruh isinya. Tidak hanya itu, yang lebih mengejutkan adalah ia nekad mau bunuh diri. Sebilah pisau dapur ia genggam siap dihunjamkan ke tubuhnya, untunglah dengan berbagai bujuk rayu dari keluarganya, niat itu dapat dicegah. Syukurlah...pikir saya sambil menghela nafas. Tapi bagaimanapun juga ada perasaan sangat tidak enak berada ditengah suasana dan emosi yang kacau seperti itu.
Entah sampai kapan tragedi terbahak-bahak dan termehek-mehek bak drama sinetron seperti itu akan sirna dari ranah pendidikan kita. Saya hanya berharap dan berdoa yang terbaik saja untuk anak-anak kita. Mereka bukanlah kelinci percobaan atau aktor/aktris yang harus berakting terbahak-bahak atau termehek-mehek. Mereka adalah anak manusia yang masih punya masa depan.
Tidak Lulus, Bukan Berarti Kiamat
Menerima kenyataan tidak lulus sekolah tentu sangat berat. Perasaan kecewa dan terpukul akan bertubi-tubi menyesak di dada. Namun ingat, tidak lulus bukan berarti akhir dari segalanya. Teguhkan diri dan tegarkan hati untuk menerima kenyataan. Jangan salahkan diri sendiri atau orang lain atas kegagalan anda. Hal itu justru akan membuat anda semakin frustasi dan sakit hati. Percayakan diri untuk selalu mengambil sisi positif dari setiap kejadian, meskipun sangat sulit pada mulanya namun menjadi indah pada akhirnya. Bisa jadi, ketegaran dini yang anda jalani akan penting artinya bagi perjalanan hidup anda berikutnya.
Masa SMA bukanlah pintu terakhir, melainkan pintu gerbang bagi kehidupan yang sebenarnya. Masih banyak rintangan di depan sana, yang butuh ketegaran dalam menghadapinya. Oleh karena itu, mengambil hikmah dari ketidaklulusan adalah sikap yang terbaik. Agar anda lebih mengenal siapa sebenarnya anda.
Saya ulangi...
Agar anda lebih mengenal....... Siapa sebenarnya Anda?
Terimakasih dan Salam Istimewa!
Label:
Sekolah
Senin, 08 Juni 2009
Meraih Sukses Dalam Pendaftaran Siswa Baru
Pendaftaran Siswa Baru atau yang lebih dikenal dengan singkatan PSB adalah rutinitas tahunan yang ada dalam bidang pendidikan. Kegiatanyan adalah mendaftar, menyeleksi, dan menerima calon-calon siswa baru yang akan masuk dalam suatu sekolah. Biasanya sekolah membentuk tim khusus untuk menyukseskan pelaksaaan PSB tersebut. Anggota tim bisa bermacam-macam, tergantung kebijakan sekolah masing-masing. Pada sekolah negeri biasanya ditangani langsung oleh guru dan staf sekolah yang ada. Sedangkan pada sekolah swasta bisa bervariasi, ada yang ditangani langsung oleh guru-guru beserta staf sekolah namun ada pula yang ditangani langsung oleh staf yayasan.Dari sisi orang tua murid, masa PSB adalah masa yang cukup menyita waktu, pikiran, tenaga, dan biaya. Betapa tidak, sebagai orang tua yang menghendaki anaknya mendapatkan sekolah dan pendidikan yang lebih baik tentu harus mencurahkan segalanya sepenuh hati. Berburu sekolah pun bisa menjadi kegiatan yang cukup melelahkan dan terkadang membuat stres. Terlebih lagi jika sekolah yang diburu adalah sekolah favorit dengan tingkat persaingan yang cukup tinggi.
Bagi anda yang sudah pernah atau sedang menjalani masa-masa seperti ini, saya yakin anda akan membenarkan apa yang saya utarakan di sini. Namun, bagi anda yang belum, bersiap-siaplah karena waktu itu suatu saat akan menghampiri anda juga.
Nah, agar anda dapat mengikuti penyelenggaraan PSB dengan baik dan memperoleh hasil yang memuaskan, ada baiknya anda memperhatikan beberapa hal berikut:
Tentukan Sedini Mungkin Sekolah yang Akan Diincar
Saya sarankan anda jauh-jauh hari sudah menentukan sekolah mana saja yang akan menjadi target anda. Bagaimana memilih sekolah yang tepat, silakan dibaca artikel sebelumnya. Dengan menentukan sekolah jauh-jauh hari, anda akan lebih objektif dalam menyeleksi sekolah yang ditarget. Pertimbangan anda pun biasanya lebih rasional dengan menyesuaikan pada tingkat intelegensi dan perkembangan emosional anak. Jangan sampai anda memasukkan anak anda pada sekolah yang justru membuat anak anda merasa terpenjara dan tidak enjoy. Ingat, anak harus merasa enjoy dengan sekolahnya karena hal itu sangat menentukan perkembangan studinya kelak. Bicarakan hal ini baik-baik dengan anak anda, jangan putuskan secara sepihak.
Tentukan Sekolah Alternatif
Anda boleh menentukan sekolah tertentu sebagai sekolah idaman anda atau anak anda. Tapi ingat, saya sarankan anda juga mempunyai database sekolah alternatif. Saat PSB tiba, biasanya orang tua sangat fokus dengan sekolah yang ditarget sehingga lupa menyiapkan sekolah alternatif. Padahal, segala kemungkinan bisa terjadi saat PSB. Misalnya anak anda tidak lolos seleksi pada sekolah yang ditarget, atau ada halangan tertentu hingga menyebabkan anak anda tidak bisa menjalani PSB dengan baik dan menyebabkan anak anda gugur. Nah, bila hal itu terjadi, maka sekolah alternatif akan menggantikan posisi sekolah yang ditarget tadi. Agar sekolah alternatif ini tidak asal pilih, maka mau tidak mau harus disiapkan sedini mungkin juga, jangan sampai terlupakan.
Hati-Hati dengan PSB Sistem Rayonisasi
PSB yang digelar di perkotaan, biasanya menggunakan sistem rayonisasi. Diknas setempat mengatur penyelenggaraan PSB menggunakan sistem rayonisasi agar PSB berjalan lancar dan baik. Pada sistem rayonisasi umumnya siswa hanya boleh memilih tiga sekolah dalam satu rayon tertentu saja. Bila ada kemungkinan boleh memilih di luar rayon, itu pun paling hanya satu sekolah. Nah, tugas anda selaku orang tua adalah membidik rayon sekolah yang ditarget dengan tepat. Artinya anda betul-betul memperoleh informasi yang memadai mengenai nilai UN dan Pagu/kuota yang dimiliki masing-masing sekolah dalam satu rayon tersebut. Pilih rayon yang nilai UN dan Pagunya betul-betul berpeluang bisa dipenuhi. Bila dua hal itu tidak bisa dipenuhi, maka alamat anak anda akan terdepak dari sekolah yang diidam-idamkan. Ingat, kecermatan dan ketepatan harus betul-betul anda curahkan dalam hal ini. Hati-hati, jangan sampai salah tembak sekolah atau anda akan menyesal.
Ikuti Prosedur PSB Online dengan Baik
Pada kota-kota tertentu, PSB dilaksakana dengan sistem online. Dalam sistem PSB Online, semua prosedur pendaftaran siswa dilaksanakan secara online tanpa harus ke sekolah tujuan. Biasanya yang digunakan sebagai patokan dalam seleksi siswa adalah nilai UN. Operator akan menginput nilai UN beserta data-data siswa yang didaftarkan secara online. Nah, bila masa PSB tiba, orang tua dapat memonitor pergerakan nilai UN anaknya pada sekolah target lewat internet. Pergerakan nilai UN akan berjalan otomatis ketika operator menginput nilai UN pendaftar baru. Nilai UN yang lebih tinggi tentu akan menempati posisi lebih tinggi. Dan nilai UN yang rendah akan terus melorot rangkingnya bila ada pendaftar baru dengan nilai UN yang lebih tinggi. Hingga pada saat tertentu bisa saja keluar dari kuota/Pagu yang diminta karena nilai UN-nya sudah tidak memenuhi. Untuk itu, dalam PSB online ini, orang tua harus rajin memonitor pergerakan nilai UN anaknya setiap saat. Saran saya, Pahami betul prosedur PSB-nya agar anda tidak salah bidik sekolah.
Demikian empat hal yang perlu anda perhatikan agar bisa sukses dalam PSB. Tidak selalu mudah memang untuk menjalaninya, namun hal itu harus anda lakukan sepenuh hati sebagai kewajiban anda sebagai orang tua. Sekedar mengingatkan dalam artikel sebelumnya, keputusan anda bisa jadi akan menentukan masa depan anak anda.
Semoga sukses!
Label:
Sekolah
Jumat, 06 Maret 2009
Mengajar Di Bawah Intaian Dua Belati

Bayangkan anda adalah sebutir telur yang bertengger di ujung tanduk. Anda harus bekerja keras menjaga keseimbangan agar tidak terpeleset jatuh. Terpeleset sedikit saja maka tamatlah riwayat anda. Anda bisa pecah dan hancur berantakan.
Bayangkan, diri anda adalah pejuang-pejuang kemerdekaan negeri ini. Anda menjadi tawanan dan dipekerjakan secara paksa oleh penjajah. Anda terpaksa harus bekerja RODI demi kepentingan para kolonial. Dan setiap kesalahan yang anda lakukan, lecutan-lecutan cemeti siap menggores kulit anda.
Bayangkan anda adalah warga korban perang. Tidak ada nyanyian merdu yang bisa anda nikmati selain dentuman meriam. Tidak ada udara segar yang bisa anda hirup selain gas amoniak dan karbondioksida yang semakin menyesakkan paru-paru. Bahkan khusyuknya sujud anda masih berada di bawah bayangan moncong senapan yang sewaktu-waktu siap meledakkan kepala anda.
Dan kali ini, bayangkan anda adalah seorang guru. Lokasi mengajar anda di pelosok negeri ini. Hari-hari mengajar anda diliputi suasana mencekam. Tidak ada pilihan untuk anda selain tetap mengajar dibawah bayang-bayang kematian. Ya, anda harus tetap mengajar, sedang di samping luar kanan dan kiri kelas anda puluhan moncong tombak, belati, dan parang siap menodong ke arah anda.
Sebuah fakta tentang kondisi guru pedalaman akan saya ungkap di sini. Hanya untuk anda, para pecinta BISNIS GURU semuanya.
Susahnya Mengubah Pola Pikir Primitif
Ini adalah kisah nyata yang terjadi di sebuah Sekolah Menengah Pertama Negeri(SMPN) di daerah saya. Kisah ini sebenarnya bukanlah kisah saya, karena kebetulan saya tidak mengajar di SMP tersebut. Ini adalah kisah teman saya yang memang menjadi guru di sana.
Menjadi guru di pelosok apalagi di luar Jawa ternyata tidak semudah mengajar di perkotaan. Mengajar di daerah terpencil dengan masyarakat yang rata-rata masih mengandalkan (maaf) logika primitif membutuhkan kesiapan ekstra. Baik itu kesiapan fisik maupun mental. Bila tidak siap, salah-salah bisa fatal akibatnya. Nyawa bisa melayang percuma kalau sampai kita terpancing untuk meladeninya.
Betapa tidak, masyarakat primitif adalah masyarakat yang acuh tak acuh (apriori) dengan pendidikan. Mereka lebih suka anak-anaknya bekerja membantu orangtuanya di ladang/kebun daripada membiarkannya sekolah. Sekolah dianggap tidak penting dan membuang waktu saja.
Parahnya lagi, mereka rata-rata temperamental dan senang adu otot. Apalagi jika menyangkut dengan kelompok/sukunya. Mereka berani berbuat apapun demi menjaga kredibilitas sukunya. Makanya tidak heran jika seringkali terjadi perkelahian antarsuku di daerah saya. Padahal bila ditelisik lebih jauh, permasalahan yang memicu perkelahian tersebut sangatlah sederhana. Misalnya, rebutan pacar, saling mengejek antarpemuda, pemalakan anak sekolah, dan lain sebagainya.
Efek dari sifat temperamental dan logika primitif itu pun tak pelak terbawa-bawa juga ke lingkungan sekolah. Khususnya di salah satu SMP Negeri yang ada di situ. Kebetulan memang mayoritas siswa yang bersekolah di situ adalah masyarakat suku asli. Sebetulnya ada tiga suku yang bersekolah di situ, namun hanya dua suku saja yang sering membuat ulah. Namanya anak sekolah, ulah apa saja bisa dilakukan untuk memancing kemarahan guru-gurunya. Namun mau marah bagaimana jika setiap tindakan guru yang dianggap merugikan oleh siswa, justru menjadi bumerang.
Contohnya begini, misalnya saya sedang asyik-asyik mengajar pada jam pertama, tiba tiba dari luar datang segerombolan anak yang biasa terlambat. Bukannya mengetuk pintu dulu dengan sopan, tapi BRAAK! daun pintu terbentur tubuh dengan keras dari luar. Naluri seorang guru tentu akan menegurnya agar bisa lebih sopan untuk masuk kelas. Namun apa reaksi mereka? malah nyelonong saja menuju bangkunya tanpa menghiraukan lagi ucapan saya. Dipanggil pun mereka tak mendengarkan.
Contoh di atas adalah salah satu saja dari sederet cerita tidak menyenangkan di sekolah itu. Intinya, kondisi siswa memang sudah rusak parah. Ketertiban dan ketaatan pada aturan sudah tidak ada lagi. Apalagi kesopanan kepada guru. Nasehat dan peringatan dari para guru sudah tak dihiraukan lagi. Dan para guru pun tidak bisa berbuat banyak melihat perilaku siswa seperti itu. Dalam hati anda pasti bertanya-tanya kenapa bisa seperti itu? Apa penyebabnya? Kenapa gurunya tidak bertindak tegas saja?
Oke, menangani siswa seperti itu tidak terlalu mudah, kawan. Apalagi beberapa guru termasuk kepala sekolahnya adalah bagian dari siswa tersebut. Maksud saya, sebagian guru dan kepala sekolah adalah satu suku dengan siswanya, sehingga yang terjadi adalah :
- Hal seperti itu dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Ini karena nilai kesopanan pada masing-masing suku di Indonesia berbeda-beda.
- Pemberian sanksi tegas, justru dianggap sebagai sikap penantangan oleh siswa. Ini bisa berakibat guru dihadang dan dikeroyok oleh siswa sepulang sekolah.
- Bila ada dua anak dari dua suku bertengkar lalu kita lerai apalagi keputusan kita terkesan memihak pada salah satunya, maka mereka bisa mengerahkan warga sukunya untuk berkelahi.
- Dan repotnya, siswa selalu membuat ulah untuk memancing reaksi guru. Ini sangat dilematis, karena bila diladeni nyawa kita terancam, bisa perang antarsuku, dll tapi jika tidak diladeni persepsi siswa terhadap guru bisa sangat jelek, “Ah…guruku aja gak berani kok, sama aku”.
Begitulah kawan, gambaran guru yang mengajar di pelosok. Penuh tragedi dan keprihatinan. Bagaimana pun adanya, siswa tetaplah siswa, mereka adalah pengelola peradaban negeri ini selanjutnya. Maka, harapan untuk berubah menjadi lebih baik tetaplah ada dan itu dibutuhkan perjuangan luar biasa. Sekedar menambahi, berulang kali polisi terjun ke sekolah tersebut untuk mengendalikan massa, namun selalu berulang dan berulang lagi. Entah sampai kapan, yang pasti perjuangan mencerdaskan bangsa ini belum berakhir.
Salam Istimewa!
Selasa, 03 Maret 2009
Wow ! Gaji Guru Rp 20.000,- Per Jam
Hmmm…fantastis sekali ya melihat angka Rp 20.000,- per jam. Untuk ukuran karyawan atau profesi kelas menengah, angka tersebut tentu sangat menggiurkan. Harusnya para guru bersyukur dong sudah dibayar semahal itu. Karyawan pabrik yang bergaji UMR/UMK saja masih jauh dari angka itu per jamnya. Sekarang coba bayangkan, kalau seminggu saja mengajar 24 jam dan sebulan jadi 96 jam, dikalikan - Rp 20.000, berarti kan gajinya bisa Rp 1.920.000,- per bulan. Wuihhh... kereeen, cuma modal cuap-cuap 4 jam sehari sudah bisa dapat gaji segitu besarnya (paling tidak jauh di atas UMR lah). Padahal sehari kan ada 24 jam, berarti masih ada 20 jam yang bisa dipakai bisnis lain atau apa saja.
Itu kalau hitungan 24 jam seminggu. Lah, padahal ada juga lho guru yang sukanya terbang ke sana ke mari (hehehe...). Bisa-bisa lebih dari 24 jam seminggu tuh ngajarnya. Dengan kata lain, pastinya income pun bisa lebih dari 2 jutaan. Wah...wah...wah...... gaji sudah lumayan gitu kok masih kurang saja. Sampai sepet mata ini melihat di TV guru-guru yang mulai gemar meninggalkan siswanya untuk dipakai demo ke gedung dewan. Memangnya minta gaji seberapa besar lagi sih, para guru kita itu?
Ternyata Guru Cuma Digaji Seminggu
(semua perhitungan berikut khusus untuk guru honorer)
Hahaha...hitung-hitungan pendapatan guru sebagaimana dipaparkan di atas itu ternyata salah besar kawan. Realitanya malah jauh dari angka itu. Ini beneran, bukan dongeng atau gosip. Jam kerja guru yang diakui dan dibayar adalah yang seminggu di depan saja. Sedangkan 3 minggu berikutnya dihitung nol rupiah alias gratis.
Anda yang tidak tahu seluk-beluk dunia pendidikan. Atau bahkan yang sedang kuliah jurusan pendidikan sekali pun mungkin akan terkejut. Dan saya yakin tidak percaya dengan fakta ini. Seperti awal-awal saya menjalani profesi ini dulu. Betul-betul hampir tidak percaya dengan sistem penggajian super unik ini. Mana ada profesi lain yang jam kerjanya sebulan tapi cuma dihitung yang seminggu saja. Tapi di profesi guru hal tersebut benar-benar terjadi.
Ini adalah sebuah rahasia umum yang hanya diketahui oleh para pelaku pendidikan. Anda yang mempunyai kerabat guru sekalipun mungkin juga tidak tahu tentang sistem penggajian ini. Bahkan mahasiswa yang mengambil spesialisasi pendidik pun bisa saja tidak tahu tentang ini. Persis sebagaimana saya dulu ketika menjadi mahasiswa, sedikitpun dosen tidak pernah mengatakan bahwa sistem penggajian guru modelnya begitu. Entah apa alasannya, yang jelas sampai saya betul-betul terjun menjalani profesi ini pun tidak ada informasi yang masuk seputar itu. Saya baru tahu setelah menerima gaji pertama sebagai guru. Dan anda dapat bayangkan, bagaimana ekspresi saya waktu itu.
Jadi, hitung-hitungan yang benar adalah seperti ini, misalnya saya mendapat jam mengajar 24 jam seminggu maka langsung dikalikan Rp 20.000,-/jam ketemulah angka Rp 480.000,- . Maka sebesar itulah bayaran saya untuk satu bulan. Angka tersebut tentu masih kalah dibandingkan gaji bulanan pekerja pabrik atau karyawan restoran yang hanya lulusan SMA. Padahal guru sekarang dituntut minimal harus SI (sarjana), kenapa gajinya masih di bawah lulusan SMA, ya? Hehehe... tanyakan pada rumput yang bergoyang.
Sekedar diketahui saja, bahwa untuk memperoleh 24 jam mengajar itu pun tidak mudah. Maksudnya, paling tidak guru tersebut harus punya jadwal tatap muka 4 jam per minggu dengan 6 kelas paralel yang di ajar. Sedangkan realita yang ada, banyak juga guru yang hanya dua jam tatap muka dalam seminggu (misalnya pelajaran Sejarah, Geografi, Olah raga, Agama, Kesenian, dll), dan kelas yang diparalel juga sedikit. Dengan begitu tidak menutup kemungkinan ada guru yang cuma kebagian 6 jam, 12 jam, 18 jam seminggu. Untuk mengetahui berapa besaran gajinya, tinggal dikalikan Rp 20.000,- saja.
Apa sih, susahnya mengatakan Rp 5.000,- per jam?
Hingga saat ini, masih ada persepsi umum yang mengganggap tabu bila seorang guru berbicara masalah gaji. Benar atau tidak ya, asumsi saya ini? Yang jelas, apa yang saya kemukakan di atas bukanlah sebuah rekayasa dengan maksud untuk dibelas kasihani atau apa. Semua sesuai fakta yang ada di lapangan. Tujuan saya adalah agar tidak ada lagi pembodohan sistematis di negeri ini, agar calon-calon guru dan masyarakat luas semakin paham tentang seluk beluk dunia keguruan, dan agar kita lebih bisa memaknai arti demokrasi terbuka yang ada di negeri ini.
Jujur, hingga saat ini saya sendiri masih bertanya-tanya, kenapa sistem penggajian untuk profesi guru di negeri ini bisa unik begitu. Pernah saya melakukan survey kecil-kecilan kepada rekan-rekan guru di daerah saya. Hampir semuanya tidak paham dari mana dan sejak kapan sistem penggajian model begini diterapkan untuk profesi guru di Indonesia. Dan ketika saya tanya, setelah tahu sistem penggajiannya model begitu, adakah keinginan pindah profesi? Hmmm... satu pun tidak ada yang menjawab ”Ya” yang artinya mereka masih nyaman-nyaman saja mengemban profesi sebagai guru bangsa tersebut.
Oke, sebelum saya akhiri tulisan ini saya ingin sedikit sharing usul kepada kawan-kawan yang sempat membaca tulisan ini.
Dengan jam mengajar sebanyak 24 jam perminggu maka dalam sebulan akan ketemu 96 jam. Jika 96 jam dikalikan Rp 5.000,- maka hasilnya adalah Rp 480.000,- . Hasil ini sama persis dengan perhitungan 24 jam dikalikan Rp 20.000,- yang jumlahnya juga Rp 480.000,- . Agar lebih jelas perhatikan perbandingan dua cara perhitungan berikut:
- Cara Perhitungan Unik
24 jam/perminggu X Rp 20.000,- = Rp 480.000,- - Cara Perhitungan Rasional
96 jam/perbulan X Rp 5.000,- = Rp 480.000,-
Walaupun dengan hasil yang sama namun saya lebih cocok dengan cara perhitungan ke 2 karena lebih terbuka dan apa adanya. Guru pun lebih nyaman karena akan dibayar sempurna jam ngajarnya selama satu bulan. Bukan hanya satu minggu saja seperti yang terjadi saat ini. Lalu kenapa hal seperti ini kok sampai detik ini tidak bisa dirubah? Apa sih, susahnya mengatakan Rp 5.000,- per jam?
NB: Salam hangat dan istimewa untuk kawan saya Lutfi Fuadi Majid yang sedang menjalani Praktik Mengajar. Semoga lancar dan sukses serta cepat selesai agar bisa segera ACTION lagi.
Salam Istimewa!
Label:
Bisnis,
Guru,
Pendidikan,
Profesi Guru,
Sekolah
Jumat, 27 Februari 2009
Ada Racun Dalam Program Sekolah Gratis
Cukup menarik saya membaca komentar teman-teman pada artikel kemarin. Ada yang pro dengan sekolah gratis, ada yang kontra, dan ada pula yang abu-abu alias setuju bersyarat. Ya, inilah fenomena dalam berdemokrasi di negeri ini. Buat saya itu tidaklah mengapa, justru saya senang menyimaknya asalkan masing-masing memiliki landasan yang jelas.
Pada artikel kali ini saya akan memenuhi janji saya untuk mengurai benang kusut dalam program sekolah gratis. Pemberlakuan sekolah gratis sendiri bagi bangsa Indonesia secara umum mungkin sebuah impian besar. Hmmm...tentu menyenangkan jika di pagi hari menyaksikan perempatan-perempatan lampu merah sepi dengan anak jalanan. Pasar-pasar sepi dari bujuk rayu kuli-kuli panggul ingusan. Pengamen-pengamen kecil juga tak dijumpai di jam-jam sekolah. Karena mereka semua sedang sibuk dengan aktivitas belajarnya di sekolah. Orang tua pun bisa bekerja dengan nyaman tanpa dibayang-bayangi kekhawatiran dipanggil pihak sekolah untuk ditagih uang SPP.
Sangat wajar dan manusiawi sekali memang. Siapa sih orang yang tidak senang dengan sesuatu yang gratis. Apalagi jika yang gratis tersebut adalah hal yang mendasar bagi kelangsungan hidup. Tapi akankah kita selalu berpikir sependek itu untuk menikmati madu di mulut tapi setelah ditelan ternyata terasa pahit dan esoknya membuat kita sakit. Hati-hati dengan sesuatu yang manis kawan, apalagi terlalu manis. Banyak penyakit yang akan mengikutinya setelah itu. Sekali lagi saya mengajak anda untuk berpikir objektif dan bukan untuk memprovokasi. Sudah terlalu sering bangsa ini tergeragap akibat terlalu banyak menikmati racun yang berbalut madu.
Kenapa Timor-Timur harus hengkang dari negeri ini? Kenapa Sipadan dan Ligitan juga gagal kita pertahankan? Mengapa Pula Blok Cepu harus dipersembahkan kepada bangsa lain? Belum lagi ketidakberdayaan kita yang cuma jadi penonton saja dari kerakusan bangsa lain yang berpesta pora di puncak gunung emas Papua? Apa yang membuat bangsa ini sekilas terlihat besar tapi sebenarnya keropos? Laksana kerbau yang selalu menurut setelah dicocok hidungnya. Atau anjing yang berubah jinak lantaran telah diberi tulang oleh tuannya. STOP!! Ayo hentikan cerita tentang kebodohan kita. Sudah saatnya kita menjadi semakin dewasa dan berpikir cerdas.
Racun Itu Adalah ...
Hati-hati dengan racun yang satu ini. Ia menyelinap dalam tubuh dengan sangat lembut sekali, bahkan hampir tidak pernah disadari. Menyelinap dan mengalir melalui peredaran darah, sampai ke otak dan menyalakan syaraf-syaraf. Ibarat candu, sekali ia masuk ke syaraf dan otak, maka akan sangat susah keluar dari tubuh. Hanya tekad dan kemauan luar bisa yang sanggup mengusirnya dari tubuh. Apa sesungguhnya racun itu? Racun itu adalah ”Mental Gratisan”.
Ya, Mental Gratisan adalah racun yang akan menghancurkan kita dan segala sendi kehidupan ini. Namun sayang, masih sedikit yang menyadari itu. Bahkan sepertinya semakin lestari saja setelah para politisi semakin bergairah mencekokkan mental ini kepada masyarakat. Dan gayung itu pun bersambut dengan sangat baik di benak masyarakat yang sudah hancur lebur secara ekonomi ini.
Tidak banyak orang yang sadar memang dengan hal ini. Bahkan mungkin sang politisi yang menggunakan program sekolah gratis sebagai senjata kampanye. Sekilas sekolah gratis terlihat menguntungkan bagi masyarakat banyak namun ternyata justru merugikan. Ya, merugikan karena bangsa ini belum bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Belum bisa berpikir secara cerdas. Dan mudah sekali latah dengan sesuatu yang baru, tanpa menilai dulu apakah sesuatu yang baru itu baik atau buruk.
Penyakit Akibat Sekolah Gratis
Penyakit ini memang belum terlihat sekarang. Tapi akan terlihat setelah anak didik kita selesai menunaikan sekolahnya. Hal ini memang sudah menjadi tradisi dan karena itulah sudah saya katakan sebelumnya bahwa bangsa ini gampang tergeragap/terkejut lalu menyesal di kemudian hari. Namun mulai sekarang, paling tidak kita tahu bahwa sesuatu yang gratis tidak seluruhnya benar-benar gratis. Sekarang anda boleh berkata pada diri sendiri, ketika anda memberikan ebook atau software gratis di blog anda tidak adakah maksud lain di balik itu? Ketika para caleg membagikan sembako dan kaos gratis, tidak adakah efek tersembunyi yang diharapkan di balik itu?
Jika anda menjawab ”YA” pada dua pertanyaan saya tersebut, tidaklah terlalu menjadi soal karena efek buruknya sangat minim di balik itu. Sayangnya, untuk program sekolah gratis, efek buruknya sangat banyak. Bahkan saya dapat memprediksi bukannya semakin maju bangsa ini, tetapi malah semakin bobrok dan terbelakang. Kenapa bisa begitu? Oke, perhatikan yang saya sampaikan berikut ini:
Dua Kesalahan Besar Sebelumnya
Anda mungkin tidak menyadari jika sudah terjadi dua kesalahan besar dalam sistem pendidikan di negeri ini. Dan sayangnya ini tidak pernah bisa diperbaiki entah sampai kapan.
Kawan, itulah dua kesalahan besar dalam sistem pendidikan kita. Dan yang diserang oleh keduanya adalah mental/mindset bangsa ini. Akankah sekarang harus dilengkapi lagi dengan program sekolah gratis ini?
Salam Istimewa!

Pada artikel kali ini saya akan memenuhi janji saya untuk mengurai benang kusut dalam program sekolah gratis. Pemberlakuan sekolah gratis sendiri bagi bangsa Indonesia secara umum mungkin sebuah impian besar. Hmmm...tentu menyenangkan jika di pagi hari menyaksikan perempatan-perempatan lampu merah sepi dengan anak jalanan. Pasar-pasar sepi dari bujuk rayu kuli-kuli panggul ingusan. Pengamen-pengamen kecil juga tak dijumpai di jam-jam sekolah. Karena mereka semua sedang sibuk dengan aktivitas belajarnya di sekolah. Orang tua pun bisa bekerja dengan nyaman tanpa dibayang-bayangi kekhawatiran dipanggil pihak sekolah untuk ditagih uang SPP.
Sangat wajar dan manusiawi sekali memang. Siapa sih orang yang tidak senang dengan sesuatu yang gratis. Apalagi jika yang gratis tersebut adalah hal yang mendasar bagi kelangsungan hidup. Tapi akankah kita selalu berpikir sependek itu untuk menikmati madu di mulut tapi setelah ditelan ternyata terasa pahit dan esoknya membuat kita sakit. Hati-hati dengan sesuatu yang manis kawan, apalagi terlalu manis. Banyak penyakit yang akan mengikutinya setelah itu. Sekali lagi saya mengajak anda untuk berpikir objektif dan bukan untuk memprovokasi. Sudah terlalu sering bangsa ini tergeragap akibat terlalu banyak menikmati racun yang berbalut madu.
Kenapa Timor-Timur harus hengkang dari negeri ini? Kenapa Sipadan dan Ligitan juga gagal kita pertahankan? Mengapa Pula Blok Cepu harus dipersembahkan kepada bangsa lain? Belum lagi ketidakberdayaan kita yang cuma jadi penonton saja dari kerakusan bangsa lain yang berpesta pora di puncak gunung emas Papua? Apa yang membuat bangsa ini sekilas terlihat besar tapi sebenarnya keropos? Laksana kerbau yang selalu menurut setelah dicocok hidungnya. Atau anjing yang berubah jinak lantaran telah diberi tulang oleh tuannya. STOP!! Ayo hentikan cerita tentang kebodohan kita. Sudah saatnya kita menjadi semakin dewasa dan berpikir cerdas.
Racun Itu Adalah ...
Hati-hati dengan racun yang satu ini. Ia menyelinap dalam tubuh dengan sangat lembut sekali, bahkan hampir tidak pernah disadari. Menyelinap dan mengalir melalui peredaran darah, sampai ke otak dan menyalakan syaraf-syaraf. Ibarat candu, sekali ia masuk ke syaraf dan otak, maka akan sangat susah keluar dari tubuh. Hanya tekad dan kemauan luar bisa yang sanggup mengusirnya dari tubuh. Apa sesungguhnya racun itu? Racun itu adalah ”Mental Gratisan”.
Ya, Mental Gratisan adalah racun yang akan menghancurkan kita dan segala sendi kehidupan ini. Namun sayang, masih sedikit yang menyadari itu. Bahkan sepertinya semakin lestari saja setelah para politisi semakin bergairah mencekokkan mental ini kepada masyarakat. Dan gayung itu pun bersambut dengan sangat baik di benak masyarakat yang sudah hancur lebur secara ekonomi ini.
Tidak banyak orang yang sadar memang dengan hal ini. Bahkan mungkin sang politisi yang menggunakan program sekolah gratis sebagai senjata kampanye. Sekilas sekolah gratis terlihat menguntungkan bagi masyarakat banyak namun ternyata justru merugikan. Ya, merugikan karena bangsa ini belum bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Belum bisa berpikir secara cerdas. Dan mudah sekali latah dengan sesuatu yang baru, tanpa menilai dulu apakah sesuatu yang baru itu baik atau buruk.
Penyakit Akibat Sekolah Gratis
Penyakit ini memang belum terlihat sekarang. Tapi akan terlihat setelah anak didik kita selesai menunaikan sekolahnya. Hal ini memang sudah menjadi tradisi dan karena itulah sudah saya katakan sebelumnya bahwa bangsa ini gampang tergeragap/terkejut lalu menyesal di kemudian hari. Namun mulai sekarang, paling tidak kita tahu bahwa sesuatu yang gratis tidak seluruhnya benar-benar gratis. Sekarang anda boleh berkata pada diri sendiri, ketika anda memberikan ebook atau software gratis di blog anda tidak adakah maksud lain di balik itu? Ketika para caleg membagikan sembako dan kaos gratis, tidak adakah efek tersembunyi yang diharapkan di balik itu?
Jika anda menjawab ”YA” pada dua pertanyaan saya tersebut, tidaklah terlalu menjadi soal karena efek buruknya sangat minim di balik itu. Sayangnya, untuk program sekolah gratis, efek buruknya sangat banyak. Bahkan saya dapat memprediksi bukannya semakin maju bangsa ini, tetapi malah semakin bobrok dan terbelakang. Kenapa bisa begitu? Oke, perhatikan yang saya sampaikan berikut ini:
- Sekolah gratis akan menyebabkan bangsa ini bermental gratisan.
Karena sudah dibiasakan dengan sesuatu yang gratis sejak dini, maka secara tidak sadar akan membentuk pola pikir masyarakat untuk selalu mengharap sesuatu yang gratis. Segala sesuatu akan dinilai baik kalau ada yang gratis. Padahal virus gratis ini jelas tidak berdampak baik bagi perekonomian bangsa. Bandingkan dengan virus beli. Dengan budaya membeli, tentu perekonomian bangsa akan berputar dengan sangat baik. Masyarakat akan semakin maju dan berkembang karena ada uang yang berputar untuk mendongkrak segala lini perekonomian masyarakat. Coba anda lihat betapa negara-negara eropa dan Cina sangat maju, karena budaya beli sangat kental terasa di sana. - Sekolah gratis akan menyebabkan bangsa ini bermental pengemis.
Terlalu sering berharap yang gratis secara tidak langsung mengubah pola pikir masyarakat menjadi pola pikir pengemis. Berharap mendapat sesuatu tanpa mau mengeluarkan biaya, bukankah itu sama saja dengan mental pengemis? Sekarang mana ada pengemis yang produktif di negeri ini. Mana ada pengemis yang sukses dan jadi miarder. Yang ada, pengemis tetaplah pengemis yang selalu terpinggirkan dalam kehidupan sosial. Apakah anda mau, kelak anak anda menjadi pengemis. Mungkin saja anak anda punya rumah tujuh lantai dan mobil berderet di garasi. Namun jika mentalnya adalah pengemis, sungguh apalah artinya semua itu. Dia akan selalu meminta, pelit bersedekah, dan tidak pernah bersyukur.
Bukankah lebih baik memiliki mental pemberi daripada penerima. Bukankah tangan di atas selalu lebih baik daripada tangan di bawah. Namun sepertinya, mental pengemis itu sudah dapat kita rasakan saat ini, bukan begitu? - Sekolah gratis akan menyebabkan bangsa ini menjadi pemalas.
Ini mungkin klimaks dari dua penyakit sebelumnya, yaitu mental pemalas. Kebiasaan memperoleh sesuatu yang gratis tidak akan pernah merangsang kita untuk berusaha dan bersusah payah. Bukankah kita berusaha dan bekerja untuk mendapatkan uang. Dan uang tersebut tentu bukan untuk dijadikan bantal tidur tetapi kita belanjakan. Nah, kalau otak kita sudah terkena virus gratisan, buat apa lagi kita bekerja. Buat apa lagi kita cari uang, toh bisa memperoleh sesuatu yang gratis. Dan tentu, cara terburuk memperoleh yang gratis adalah dengan mengemis.
Dua Kesalahan Besar Sebelumnya
Anda mungkin tidak menyadari jika sudah terjadi dua kesalahan besar dalam sistem pendidikan di negeri ini. Dan sayangnya ini tidak pernah bisa diperbaiki entah sampai kapan.
- Kurikulum Pekerja (Kuli)
Ya, kalau anda mencermati maka kurikulum yang ada sekarang mayoritas hanya menyiapkan anak didik kita sebagai kuli. Jadi setelah lulus sekolah diharapkan ia bisa segera mencari kerja dan menyandang predikat kuli, sekalipun ia memakai jas dan sepatu mengkilap.
Sangat minim sekolah yang menyiapkan anak didiknya sebagai pengusaha (entrepreneur). Makanya tidak mengherankan jika status pegawai apalagi pegawai negeri sipil sangat terhormat dan diidam-idamkan di negeri ini daripada status pengusaha/pebisnis. Dan sekali lagi sadarkah anda bahwa mentalitas kuli yang dimasukkan dalam kurikulum pendidikan ini sebenarnya adalah warisan zaman kolonial Belanda yang memang menginginkan bangsa ini menjadi tenaga kerja bukan sebagai pengusaha. - Jurusan IPA (Sains) Selalu Menjadi Primadona
Jujur atau tidak sistem pendidikan kita telah menomorsatukan jurusan IPA. Di sekolah menengah maupun di perguruan tinggi, jurusan sains (IPA) selalu menjadi primadona. Maka tidak mengherankan jika putra-putri kita yang kebetulan berotak cerdas berlomba ingin masuk jurusan sains tersebut. Bukan begitu?
Nah, sekarang saya akan memberitahukan kepada anda sekali lagi bahwa fenomena tersebut adalah warisan budaya kolonial Belanda. Mereka sengaja memasukkan siswa-siswa yang cerdas tersebut ke jurusan sains agar tidak vokal mengkritisi kebijakan Belanda. Maka dibungkamlah mulut mereka dengan kesibukan sebagai tenaga-tenaga ahli (kuli) yang selalu berkutat dengan angka-angka dan hal-hal teknis. Hingga tidak ada sama sekali kesempatan untuk berpikir masalah sosial dan politik, apalagi menjadi pengusaha dan sudagar.
Belanda takut memasukkan mereka dalam jurusan Sosial (IPS/Ekonomi) karena khawatir menjadi bumerang dan merongrong keberadaan Belanda di negeri ini. Sekarang coba anda cek, mana ada dokter atau insinyur yang terangsang untuk mencoba kritis terhadap kebijakan politik dan sosial. Padahal mereka adalah manusia-manusia yang cerdas.
Kawan, itulah dua kesalahan besar dalam sistem pendidikan kita. Dan yang diserang oleh keduanya adalah mental/mindset bangsa ini. Akankah sekarang harus dilengkapi lagi dengan program sekolah gratis ini?
Salam Istimewa!
Label:
Bisnis,
Guru,
Mindset Bisnis,
Pebisnis,
Pendidikan,
Sekolah,
Sekolah Gratis,
Siswa
Senin, 23 Februari 2009
Sekolah Kok Gratis, Mau Dapat Apa?
Mario Teguh Sang Motivator Kondang berkata:
”Bagaimana bisa, membayar setengah mengharapkan dapat penuh!”
Kira-kira begitulah kalimat yang akhir-akhir ini sering kita dengar diucapkan oleh Mario Teguh dalam tayangan iklan Golden Ways di Metro TV. Lama saya berpikir untuk bisa mencerna kalimat tersebut dengan baik. Kalimatnya sendiri sebenarnya singkat dan sederhana. Namun saya merasa ada makna yang sedemikian dalam terkandung dalam kalimat tersebut.
Saya jadi teringat tulisan Motivator Muda yang berjudul Beranikah Anda Berinvestasi Untuk Sukses juga tulisan Mas Hengky yang berjudul Bisnis Kok Gratisan serta tulisan Mas Iwan yang berjudul Sehat Berinvestasi. Dalam tiga tulisan tersebut sangat gamblang disebutkan betapa pentingnya sebuah investasi. Menurut mereka, keberanian berinvestasi menunjukkan kesungguhan dan akan berbanding lurus dengan kualitas hasil dari investasi tersebut. Jika kita berani berinvestasi maka kita berhak mendapatkan hasil dari investasi kita. Sebaliknya jika kita masih ragu dan takut berinvestasi maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Kenapa mereka berargumen seperti itu? Saya yakin karena mereka bertiga telah mengujicoba terlebih dulu sebelum melemparkan statementnya.
Saya sendiri sangat sepakat dengan kalimat Mario Teguh tersebut, juga statement kawan-kawan saya. Bahkan jauh sebelum kalimat itu diucapkan Mario Teguh, sebenarnya sudah sering kita dengar slogan pendek yang berbunyi ”Ada Harga, Ada Rupa”. Apa yang kita dapatkan akan sesuai dengan apa yang kita bayarkan.
Sayangnya, argumen dan slogan yang bagus tersebut hanya nyaring terdengar dalam lingkup dunia bisnis. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah slogan itu bisa diberlakukan dalam dunia pendidikan? sedangkan mayoritas masyarakat kita mengharapkan sekolah itu gratis. Bahkan beberapa daerah dan propinsi sudah mulai menjalankan program sekolah gratis.
Bukannya saya tidak sepakat dengan program sekolah gratis (Kebetulan di Sumatera Selatan sudah diberlakukan program sekolah gratis). Program ini jelas sangat mulia dan memenuhi hak memperoleh pendidikan bagi masyarakat luas. Hanya saja, saya khawatir ini justru menjadi bumerang dalam sistem pendidikan kita. Terutama jika melihat pada efek jangka panjangnya. Saya berani menulis seperti ini karena menyaksikan dan merasakan secara langsung bagaimana efek sekolah gratis bagi siswa, sekolah, dan guru (Lain waktu akan saya urai tentang ini).
Tentu sangat ironis wacana sekolah gratis jika faktanya terjadi paradoks sebagaimana berikut:
Dan satu lagi, jika anda memiliki uang sangat cukup untuk biaya sekolah anak anda, akankah masih menyekolahkan anak anda di sekolah yang gratis? silakan berikan argumen anda. Terimakasih.
Salam Istimewa!

”Bagaimana bisa, membayar setengah mengharapkan dapat penuh!”
Kira-kira begitulah kalimat yang akhir-akhir ini sering kita dengar diucapkan oleh Mario Teguh dalam tayangan iklan Golden Ways di Metro TV. Lama saya berpikir untuk bisa mencerna kalimat tersebut dengan baik. Kalimatnya sendiri sebenarnya singkat dan sederhana. Namun saya merasa ada makna yang sedemikian dalam terkandung dalam kalimat tersebut.
Saya jadi teringat tulisan Motivator Muda yang berjudul Beranikah Anda Berinvestasi Untuk Sukses juga tulisan Mas Hengky yang berjudul Bisnis Kok Gratisan serta tulisan Mas Iwan yang berjudul Sehat Berinvestasi. Dalam tiga tulisan tersebut sangat gamblang disebutkan betapa pentingnya sebuah investasi. Menurut mereka, keberanian berinvestasi menunjukkan kesungguhan dan akan berbanding lurus dengan kualitas hasil dari investasi tersebut. Jika kita berani berinvestasi maka kita berhak mendapatkan hasil dari investasi kita. Sebaliknya jika kita masih ragu dan takut berinvestasi maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Kenapa mereka berargumen seperti itu? Saya yakin karena mereka bertiga telah mengujicoba terlebih dulu sebelum melemparkan statementnya.
Saya sendiri sangat sepakat dengan kalimat Mario Teguh tersebut, juga statement kawan-kawan saya. Bahkan jauh sebelum kalimat itu diucapkan Mario Teguh, sebenarnya sudah sering kita dengar slogan pendek yang berbunyi ”Ada Harga, Ada Rupa”. Apa yang kita dapatkan akan sesuai dengan apa yang kita bayarkan.
Sayangnya, argumen dan slogan yang bagus tersebut hanya nyaring terdengar dalam lingkup dunia bisnis. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah slogan itu bisa diberlakukan dalam dunia pendidikan? sedangkan mayoritas masyarakat kita mengharapkan sekolah itu gratis. Bahkan beberapa daerah dan propinsi sudah mulai menjalankan program sekolah gratis.
Bukannya saya tidak sepakat dengan program sekolah gratis (Kebetulan di Sumatera Selatan sudah diberlakukan program sekolah gratis). Program ini jelas sangat mulia dan memenuhi hak memperoleh pendidikan bagi masyarakat luas. Hanya saja, saya khawatir ini justru menjadi bumerang dalam sistem pendidikan kita. Terutama jika melihat pada efek jangka panjangnya. Saya berani menulis seperti ini karena menyaksikan dan merasakan secara langsung bagaimana efek sekolah gratis bagi siswa, sekolah, dan guru (Lain waktu akan saya urai tentang ini).
Tentu sangat ironis wacana sekolah gratis jika faktanya terjadi paradoks sebagaimana berikut:
- Bagaimana bisa, sekolah gratis sedang sering saya jumpai siswa ngoceh berlama-lama via handphone?
- Bagaimana bisa, sekolah gratis sedang orang tua siswa ke mana-mana mengendarai avanza, jazz, dan innova?
- Bagaimana bisa, membayar setengah tapi mengharapkan penuh?
- Bagaimana bisa, tidak membayar sama sekali tapi mengharapkan penuh?
Dan satu lagi, jika anda memiliki uang sangat cukup untuk biaya sekolah anak anda, akankah masih menyekolahkan anak anda di sekolah yang gratis? silakan berikan argumen anda. Terimakasih.
Salam Istimewa!
Label:
Guru,
Pendidikan,
Sekolah,
Sekolah Gratis,
Siswa
Kamis, 19 Februari 2009
Saat Guru Killer Bertemu Murid Ndableg (Kisah Guru Killer Bagian 2)
Hallo kawan BISNIS GURU! Bagaimana kabar hari ini? Semoga tetap berbahagia, ya!
Sudah membaca kisah sebelumnya, kan! Kali ini Pak Guru punya kisah unik tentang Guru Killer yang Bertemu Murid Ndableg. Kisahnya gak serius kok, malah mungkin bisa membuat kalian tersenyum.
Kalau Guru Killer bertemu murid pendiam itu sih biasa, apalagi murid ndableg bertemu dengan Guru sabar, sudah basi kali ya. Nah sekarang kebayang gak, apa jadinya kalau Guru Killer yang terkenal temperamental dan suka menghukum berhadapan dengan siswanya yang super duper ndablegnya. Hmmm...gimana ya?
Oke deh daripada bikin penasaran terus, lebih baik segera klik continue reading di bawah ini untuk menyimak kisah lengkapnya!
Pelajaran Tentang Antonim
Kelas yang tadi ribut-ribut tanpa guru, kini menjadi sunyi. Guru Bahasa Indonesia yang paling ditakuti Dan disegani oleh semua murid telah masuk ke dalam kelas. Wajahnya garang seperti harimau kelaparan.
Murid-murid : Selamat pagi, Bu Guru!
Bu Guru (dengan suara melengking) : Mengapa bilang selamat pagi saja? Kalau begitu siang, sore Dan malam kalian mendoakan saya tidak selamat ya?
Murid-murid : Selamat pagi, siang Dan sore Bu Guru.....
Bu guru : Kenapa panjang sekali? Tidak pernah orang mengucapkan selamat seperti itu! Katakan saja selamat sejahtera, bukankah lebih bagus didengar Dan penuh makna? Lagipula ucapan ini meliputi semua masa Dan keadaan.
Murid-murid : Selamat sejahtera Bu Guru!
Bu guru : Sama-sama, duduk! Dengar sini baik-baik. Hari ini Bu Guru mau menguji kalian semua tentang perlawanan kata atau antonim kata. Kalau Bu Guru sebutkan perkataannya, kamu semua harus cepat menjawabnya dengan lawan katanya, mengerti?
Murid-murid : Mengerti Bu Guru...
Guru : Pandai!
Murid-murid : Bodoh!
Guru : Tinggi!
Murid-murid : Rendah!
Guru : Jauh!
Murid-murid : Dekat!
Guru : Berjaya!
Murid-murid : Menang!
Guru : Salah itu!
Murid-murid : Betul ini!
Guru (geram) : Bodoh!
Murid-murid : Pandai!
Guru : Bukan!
Murid-murid : Ya!
Guru (mulai pusing) : Oh Tuhan!
Murid-murid : Oh Hamba!
Guru : Dengar ini...
Murid-murid : Dengar itu...
Guru : Diam!!!!!
Murid-murid : Ribut!!!!!
Guru : Itu bukan pertanyaan, bodoh!!!
Murid-murid : Ini adalah jawaban, pandai!!!
Guru : Mati aku!
Murid-murid : Hidup kami!
Guru : Saya rotan baru tau rasa!!
Murid-murid : Kita akar lama tak tau rasa!!
Guru : Malas aku ngajar kalian!
Murid-murid : Rajin kami belajar bu guru...
Guru: Kalian Gila semua!!!
Murid-murid : Kami waras sebagian!!!
Guru : Cukup! Cukup!
Murid-murid : Kurang! Kurang!
Guru : Sudah! Sudah!
Murid-murid : Belum! Belum!
Guru : Mengapa kamu semua bodoh sekali?
Murid-murid : Sebab saya seorang pandai!
Guru : Oh! Melawan, ya??!!
Murid-murid : Oh! Mengalah, tidak??!!
Guru : Kurang ajar!
Murid-murid : Cukup ajar!
Guru : Habis aku!
Murid-murid : Kekal kamu!
Guru (putus ASA) : O.K. Pelajaran sudah habis!
Murid-murid : K.O. Pelajaran belum mulai!
Guru : Sudah, bodoh!
Murid-murid : Belum, pandai!
Guru : Berdiri!
Murid-murid : Duduk!
Guru : Bego kalian ini!
Murid-murid : Cerdik kami itu!
Guru : Rusak!
Murid-murid : Baik!
Guru (stres) : Kamu semua ditahan siang Hari ini!!!
Murid-murid : Dilepaskan tengah malam itu!!!
Bu Guru mukanya merah padam dan tanpa bicara lagi mengambil buku-bukunya dan keluar ruangan, kemudian mengajukan pengunduran dirinya sebagai guru.
(Sumber: http://sma-purnama.blogspot.com)
Sepenggal Celoteh Guru
Apa kesimpulan anda setelah membaca kisah di atas kawan? Tentu ada beragam persepsi yang berkecamuk di benak anda.
Saya sengaja menyajikan tema Guru Killer ini dalam bentuk kisah. Walaupun sebenarnya bisa saja menampilkannya dalam bentuk analisis yang komprehensif. Namun analisis komprehensif sepertinya sudah terlalu banyak dimuat di media massa maupun elektronik dan ternyata toh tidak ada perubahan yang signifikan untuk menghapus fenomena Guru Killer tersebut.
Juga terlalu muluk rasanya mengharapkan ada perubahan dari penerbitan artikel khusus ini. Saya hanyalah guru biasa dan bukan penentu kebijakan dalam lingkup pendidikan. Namun apa salahnya saya mengajak diri pribadi dan pembaca blog saya yang cuma segelintir ini untuk lebih waspada dan melindungi putra-putri kita masing-masing. Mari kita bergandeng tangan ikut membackup peranan guru selaku pendidik dengan memberikan pendidikan keluarga yang lebih baik.
Perlu kita ketahui bersama bahwa fenomena Guru Killer sepertinya akan tetap muncul sepanjang zaman. Silakan baca artikel Mas Muklis disini untuk melihat faktanya. Seorang guru ketika memutuskan sebuah tindakan jelas memiliki alasan pribadi walaupun terkadang tidak rasional. Tapi sekecil dan setidakrasional apa pun alasan guru tetaplah sebuah bentuk akibat. Dan akibat ini tentu berasal dari sebab. Selama sebab ini tidak terselesaikan terlebih dulu maka dapat dipastikan cerita tentang Guru Killer yang menghajar siswanya sampai babak belur akan selalu menghiasi ranah pendidikan kita. Namun alangkah bodohnya kita bila selalu terlambat untuk mendeteksi masalah yang sedemikian klasik ini.
Fenomena yang tak kalah menarik adalah tentang siswa yang ndableg. Siswa ndableg adalah siswa yang sudah dihukum berkali-kali tapi tetap saja tidak ada perubahan. Segala teknik pendekatan hukuman sudah dilancarkan tapi tetap saja ia melanggar aturan. Bahkan tidak jarang si murid tersebut menantang gurunya untuk sengaja menghukumnya. Kalau bisa sesadis mungkin agar bisa menuntut balik Guru tersebut dengan tuduhan telah melakukan tindak kekerasan. Dalam kondisi seperti ini biasanya orang tua, masyarakat, polisi, dan media massa tidak mau tahu. Hanya yang tersurat saja yang dinilai tanpa melihat apa sebenarnya latar belakangnya.
Sebelum saya akhiri tulisan ini, saya ingin berpesan kepada anda semua selaku orang tua siswa.
Salam Istimewa!

Sudah membaca kisah sebelumnya, kan! Kali ini Pak Guru punya kisah unik tentang Guru Killer yang Bertemu Murid Ndableg. Kisahnya gak serius kok, malah mungkin bisa membuat kalian tersenyum.
Kalau Guru Killer bertemu murid pendiam itu sih biasa, apalagi murid ndableg bertemu dengan Guru sabar, sudah basi kali ya. Nah sekarang kebayang gak, apa jadinya kalau Guru Killer yang terkenal temperamental dan suka menghukum berhadapan dengan siswanya yang super duper ndablegnya. Hmmm...gimana ya?
Oke deh daripada bikin penasaran terus, lebih baik segera klik continue reading di bawah ini untuk menyimak kisah lengkapnya!
Pelajaran Tentang Antonim
Kelas yang tadi ribut-ribut tanpa guru, kini menjadi sunyi. Guru Bahasa Indonesia yang paling ditakuti Dan disegani oleh semua murid telah masuk ke dalam kelas. Wajahnya garang seperti harimau kelaparan.
Murid-murid : Selamat pagi, Bu Guru!
Bu Guru (dengan suara melengking) : Mengapa bilang selamat pagi saja? Kalau begitu siang, sore Dan malam kalian mendoakan saya tidak selamat ya?
Murid-murid : Selamat pagi, siang Dan sore Bu Guru.....
Bu guru : Kenapa panjang sekali? Tidak pernah orang mengucapkan selamat seperti itu! Katakan saja selamat sejahtera, bukankah lebih bagus didengar Dan penuh makna? Lagipula ucapan ini meliputi semua masa Dan keadaan.
Murid-murid : Selamat sejahtera Bu Guru!
Bu guru : Sama-sama, duduk! Dengar sini baik-baik. Hari ini Bu Guru mau menguji kalian semua tentang perlawanan kata atau antonim kata. Kalau Bu Guru sebutkan perkataannya, kamu semua harus cepat menjawabnya dengan lawan katanya, mengerti?
Murid-murid : Mengerti Bu Guru...
Guru : Pandai!
Murid-murid : Bodoh!
Guru : Tinggi!
Murid-murid : Rendah!
Guru : Jauh!
Murid-murid : Dekat!
Guru : Berjaya!
Murid-murid : Menang!
Guru : Salah itu!
Murid-murid : Betul ini!
Guru (geram) : Bodoh!
Murid-murid : Pandai!
Guru : Bukan!
Murid-murid : Ya!
Guru (mulai pusing) : Oh Tuhan!
Murid-murid : Oh Hamba!
Guru : Dengar ini...
Murid-murid : Dengar itu...
Guru : Diam!!!!!
Murid-murid : Ribut!!!!!
Guru : Itu bukan pertanyaan, bodoh!!!
Murid-murid : Ini adalah jawaban, pandai!!!
Guru : Mati aku!
Murid-murid : Hidup kami!
Guru : Saya rotan baru tau rasa!!
Murid-murid : Kita akar lama tak tau rasa!!
Guru : Malas aku ngajar kalian!
Murid-murid : Rajin kami belajar bu guru...
Guru: Kalian Gila semua!!!
Murid-murid : Kami waras sebagian!!!
Guru : Cukup! Cukup!
Murid-murid : Kurang! Kurang!
Guru : Sudah! Sudah!
Murid-murid : Belum! Belum!
Guru : Mengapa kamu semua bodoh sekali?
Murid-murid : Sebab saya seorang pandai!
Guru : Oh! Melawan, ya??!!
Murid-murid : Oh! Mengalah, tidak??!!
Guru : Kurang ajar!
Murid-murid : Cukup ajar!
Guru : Habis aku!
Murid-murid : Kekal kamu!
Guru (putus ASA) : O.K. Pelajaran sudah habis!
Murid-murid : K.O. Pelajaran belum mulai!
Guru : Sudah, bodoh!
Murid-murid : Belum, pandai!
Guru : Berdiri!
Murid-murid : Duduk!
Guru : Bego kalian ini!
Murid-murid : Cerdik kami itu!
Guru : Rusak!
Murid-murid : Baik!
Guru (stres) : Kamu semua ditahan siang Hari ini!!!
Murid-murid : Dilepaskan tengah malam itu!!!
Bu Guru mukanya merah padam dan tanpa bicara lagi mengambil buku-bukunya dan keluar ruangan, kemudian mengajukan pengunduran dirinya sebagai guru.
(Sumber: http://sma-purnama.blogspot.com)
Sepenggal Celoteh Guru
Apa kesimpulan anda setelah membaca kisah di atas kawan? Tentu ada beragam persepsi yang berkecamuk di benak anda.
Saya sengaja menyajikan tema Guru Killer ini dalam bentuk kisah. Walaupun sebenarnya bisa saja menampilkannya dalam bentuk analisis yang komprehensif. Namun analisis komprehensif sepertinya sudah terlalu banyak dimuat di media massa maupun elektronik dan ternyata toh tidak ada perubahan yang signifikan untuk menghapus fenomena Guru Killer tersebut.
Juga terlalu muluk rasanya mengharapkan ada perubahan dari penerbitan artikel khusus ini. Saya hanyalah guru biasa dan bukan penentu kebijakan dalam lingkup pendidikan. Namun apa salahnya saya mengajak diri pribadi dan pembaca blog saya yang cuma segelintir ini untuk lebih waspada dan melindungi putra-putri kita masing-masing. Mari kita bergandeng tangan ikut membackup peranan guru selaku pendidik dengan memberikan pendidikan keluarga yang lebih baik.
Perlu kita ketahui bersama bahwa fenomena Guru Killer sepertinya akan tetap muncul sepanjang zaman. Silakan baca artikel Mas Muklis disini untuk melihat faktanya. Seorang guru ketika memutuskan sebuah tindakan jelas memiliki alasan pribadi walaupun terkadang tidak rasional. Tapi sekecil dan setidakrasional apa pun alasan guru tetaplah sebuah bentuk akibat. Dan akibat ini tentu berasal dari sebab. Selama sebab ini tidak terselesaikan terlebih dulu maka dapat dipastikan cerita tentang Guru Killer yang menghajar siswanya sampai babak belur akan selalu menghiasi ranah pendidikan kita. Namun alangkah bodohnya kita bila selalu terlambat untuk mendeteksi masalah yang sedemikian klasik ini.
Fenomena yang tak kalah menarik adalah tentang siswa yang ndableg. Siswa ndableg adalah siswa yang sudah dihukum berkali-kali tapi tetap saja tidak ada perubahan. Segala teknik pendekatan hukuman sudah dilancarkan tapi tetap saja ia melanggar aturan. Bahkan tidak jarang si murid tersebut menantang gurunya untuk sengaja menghukumnya. Kalau bisa sesadis mungkin agar bisa menuntut balik Guru tersebut dengan tuduhan telah melakukan tindak kekerasan. Dalam kondisi seperti ini biasanya orang tua, masyarakat, polisi, dan media massa tidak mau tahu. Hanya yang tersurat saja yang dinilai tanpa melihat apa sebenarnya latar belakangnya.
Sebelum saya akhiri tulisan ini, saya ingin berpesan kepada anda semua selaku orang tua siswa.
- Dengan telah menyekolahkan anak, jangan lantas anda bernafas lega dan tidak lagi memperhatikan putra-putri anda. Ingat, sekolah bukanlah bengkel.
- Waktu terbanyak anak dalam sehari adalah di rumah, jadi berikan kepada putra-putri anda pendidikan keluarga yang terbaik di rumah.
- Anak yang terlihat pendiam di rumah belum tentu ia baik di luar rumah, sebaliknya anak yang terlihat pendiam di sekolah belum tentu ia berperilaku baik di rumah. Jadi waspadalah untuk tidak terkecoh.
- Pelajaran budi pekerti anak yang paling dominan diserap dari pergaulan teman, bacaan, tontonan, dan lingkungannya. Jadi perhatikan elemen-elemen tersebut.
- Jalin komunikasi yang baik dengan anak, tapi ingat anda harus lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Salam Istimewa!
Label:
Bahagia,
Guru,
Guru Killer,
Murid,
Murid Ndableg,
Sekolah,
Siswa
Senin, 16 Februari 2009
Saat Guru Menjadi Monster (Kisah Guru Killer Bagian 1)
Pagi yang cerah itu. Saat ayahku bercengkrama dengan monitor 29 incinya. Saat ibuku menggoyang-goyangkan bokongnya mengikuti irama ulekan sambal. Aku mulai sibuk mempersiapkan diri. Melengkapi tubuhku dengan atribut-atribut keguruan yang kental.
Inilah kebiasaan rutinku setiap pagi. Menyetrika baju, menyemir sepatu dan memanasi sepeda motor kesayanganku. Tidak ada aktivitas lain selain itu dalam hari efektifku. Tidak ada acara mengantar anak ke sekolah, Tidak ada acara menyapu rumah. Pokoknya aktivitasku hanya untuk aku. Aku masih single dan itulah rutinitasku setiap pagi. Terlihat monoton namun aku senang dan ikhlas menjalaninya.
Aku senang karena sebentar lagi bertemu dengan wajah-wajah lugu murid-muridku. Memang mereka sudah SMA, namun keluguan itu tetap tak bisa disembunyikan dari ranum wajahnya. Aku senang saat mereka datang menyergapku dan melantunkan kalimat indah ”Assalamu’alaikum, Pak Umar!”. Kemudian mereka saling berebut meraih telapak tanganku yang sengaja kuwangikan untuk diciumnya dengan khusyuk. Ada yang langsung menyerobot buku-buku didekapanku untuk dibawakannya menuju kelas. Tingkah-tingkah mereka yang tak karuan dan terkadang ada yang malu-malu membuat hatiku damai layaknya menyaksikan burung-burung kecil yang menari-nari di pucuk-pucuk ranting dan dedaunan. Aku hanya tersenyum kecil saat muridku mulai berceloteh riang yang sesungguhnya bagiku topiknya tidak terlalu penting itu.
Hmmm... terimakasih Tuhan engkau kirimkan malaikat-malaikat kecil ini disisiku. Berkat merekalah hari-hariku menjadi penuh warna. Berkat mereka pula aku masih bisa tebarkan senyum bahagia sebagai sedekah termurahku. Terimakasih engkau telah gariskan aku sebagai guru agar bisa terus menikmati harmonisasi makhluk dan alammu ini. Andai aku bukan guru, mungkin kesempatan seperti ini tidak akan pernah menjadi milikku. Subhanalloh...
Ups, ternyata aku mulai melamun dan tersenyum sendiri membayangkan apa yang akan terjadi nanti di sekolah. Sekarang harus segera kubereskan setrikaan seragam keguruanku ini. Agar terlihat licin dan sedap dipandang murid-muridku nanti. Kata ahli horoskop, orang libra pintar bersolek dan sangat sensitif dengan penampilan. Hasrat untuk tampil sempurna dan indah di depan khalayak sangatlah tinggi. Rasanya tidak perlu aku membantah argumen itu. Karena memang itulah yang sedang memvirusi otakku kini, hehehe...
Di ruang sebelah, terdengar ayahku batuk-batuk kecil. Ah...seperti biasa mungkin ia tersedak asap rokoknya. Audio yang terpancar dari kotak televisi terdengar sangat keras memekak. Maklum karena diback-up dengan double sound berkekuatan 10.000 watt. Bass berdegup-degup layaknya audio dari home teathre saja.
Kenapa Guru Menjadi Killer, ya?
Ahh....akhirnya persiapan tetek bengekku selesai juga. Dan waktunya menikmati sarapan pagi buatan ibuku. Ahaa...ternyata pagi ini ibu membuatkanku menu spesial kegemaranku. Ya...sepiring nasi goreng ikan asin bertabur bawang goreng, irisan mentimun, dan kerupuk kecil-kecil sudah siap tersaji di meja makan. Di sebelahnya ada secobek kecil sambal terasi yang juga sangat kugemari. Air liur di kerongkonganku terasa mau muncrat keluar semua membasahi rongga mulutku. Hmmm...nikmat sekali pastinya nasi goreng ini. Terimakasih bunda, jerih payahmu menyiapkan sarapan pagiku tak akan terlupa untuk selamanya.
Aku tidak terbiasa sarapan di meja makan. Entah mengapa rasanya gak enak saja, kaku dan tidak nikmat. Aku lebih sreg kalau sarapan di depan televisi. Kebiasaanku ini sangat buruk dan jangan ditiru ya! Hehehehe... sekarang aku sudah siap duduk manis di sebelah ayahku yang tiduran di karpet. Sebentar basa-basi menawari beliau sarapan, sejurus kemudian gigi-gerigiku sudah sibuk menggiling nasi goreng spesial itu.
Sejenak aku terdiam, terpana melihat gambar di layar monitor TV. Sebuah tontotan yang tak layak untuk ditiru. Seorang guru dengan sangat begisnya menghajar beberapa murid di lapangan yang disaksikan langsung oleh teman-temannya. Ya, diberitakan seorang kawan guru di daerah Muara Enim Sumatera Selatan terancam hukuman 5 tahun penjara karena dipidana melakukan tindak kekerasan kepada siswanya sendiri. Rekaman video menggunakan kamera handphone menayangkan perbuatan guru tersebut. Beberapa siswa dibanting-banting ke tanah layaknya boneka mainan. Masya Allah... sungguh jelas itu diluar batas kewajaran sebuah hukuman untuk murid. Orang tua mana yang sanggup menyaksikan buah hatinya diperlakukan seperti itu. Di rumah pun mungkin tidak pernah memperlakukan anaknya sedemikian sadisnya. Lalu kenapa guru tersebut begitu bengis dan kejam? Bukankah guru seyogyanya menjadi orangtua kedua bagi si anak? Bukankah guru harusnya bisa memberi contoh yang baik bagi muridnya, dan bukan sebaliknya menjadi ancaman.
Oh kawanku...kenapa engkau lakukan itu? Kenapa engkau berubah menjadi Monster dan Algojo yang sangat menakutkan. Ada apa denganmu?
Baca lanjutannya di artikel berikutnya, ya!
Saat Guru Killer Bertemu Murid Ndableg (Kisah Guru Killer Bagian 2)
Salam Istimewa!

Inilah kebiasaan rutinku setiap pagi. Menyetrika baju, menyemir sepatu dan memanasi sepeda motor kesayanganku. Tidak ada aktivitas lain selain itu dalam hari efektifku. Tidak ada acara mengantar anak ke sekolah, Tidak ada acara menyapu rumah. Pokoknya aktivitasku hanya untuk aku. Aku masih single dan itulah rutinitasku setiap pagi. Terlihat monoton namun aku senang dan ikhlas menjalaninya.
Aku senang karena sebentar lagi bertemu dengan wajah-wajah lugu murid-muridku. Memang mereka sudah SMA, namun keluguan itu tetap tak bisa disembunyikan dari ranum wajahnya. Aku senang saat mereka datang menyergapku dan melantunkan kalimat indah ”Assalamu’alaikum, Pak Umar!”. Kemudian mereka saling berebut meraih telapak tanganku yang sengaja kuwangikan untuk diciumnya dengan khusyuk. Ada yang langsung menyerobot buku-buku didekapanku untuk dibawakannya menuju kelas. Tingkah-tingkah mereka yang tak karuan dan terkadang ada yang malu-malu membuat hatiku damai layaknya menyaksikan burung-burung kecil yang menari-nari di pucuk-pucuk ranting dan dedaunan. Aku hanya tersenyum kecil saat muridku mulai berceloteh riang yang sesungguhnya bagiku topiknya tidak terlalu penting itu.
Hmmm... terimakasih Tuhan engkau kirimkan malaikat-malaikat kecil ini disisiku. Berkat merekalah hari-hariku menjadi penuh warna. Berkat mereka pula aku masih bisa tebarkan senyum bahagia sebagai sedekah termurahku. Terimakasih engkau telah gariskan aku sebagai guru agar bisa terus menikmati harmonisasi makhluk dan alammu ini. Andai aku bukan guru, mungkin kesempatan seperti ini tidak akan pernah menjadi milikku. Subhanalloh...
Ups, ternyata aku mulai melamun dan tersenyum sendiri membayangkan apa yang akan terjadi nanti di sekolah. Sekarang harus segera kubereskan setrikaan seragam keguruanku ini. Agar terlihat licin dan sedap dipandang murid-muridku nanti. Kata ahli horoskop, orang libra pintar bersolek dan sangat sensitif dengan penampilan. Hasrat untuk tampil sempurna dan indah di depan khalayak sangatlah tinggi. Rasanya tidak perlu aku membantah argumen itu. Karena memang itulah yang sedang memvirusi otakku kini, hehehe...
Di ruang sebelah, terdengar ayahku batuk-batuk kecil. Ah...seperti biasa mungkin ia tersedak asap rokoknya. Audio yang terpancar dari kotak televisi terdengar sangat keras memekak. Maklum karena diback-up dengan double sound berkekuatan 10.000 watt. Bass berdegup-degup layaknya audio dari home teathre saja.
Kenapa Guru Menjadi Killer, ya?
Ahh....akhirnya persiapan tetek bengekku selesai juga. Dan waktunya menikmati sarapan pagi buatan ibuku. Ahaa...ternyata pagi ini ibu membuatkanku menu spesial kegemaranku. Ya...sepiring nasi goreng ikan asin bertabur bawang goreng, irisan mentimun, dan kerupuk kecil-kecil sudah siap tersaji di meja makan. Di sebelahnya ada secobek kecil sambal terasi yang juga sangat kugemari. Air liur di kerongkonganku terasa mau muncrat keluar semua membasahi rongga mulutku. Hmmm...nikmat sekali pastinya nasi goreng ini. Terimakasih bunda, jerih payahmu menyiapkan sarapan pagiku tak akan terlupa untuk selamanya.
Aku tidak terbiasa sarapan di meja makan. Entah mengapa rasanya gak enak saja, kaku dan tidak nikmat. Aku lebih sreg kalau sarapan di depan televisi. Kebiasaanku ini sangat buruk dan jangan ditiru ya! Hehehehe... sekarang aku sudah siap duduk manis di sebelah ayahku yang tiduran di karpet. Sebentar basa-basi menawari beliau sarapan, sejurus kemudian gigi-gerigiku sudah sibuk menggiling nasi goreng spesial itu.
Sejenak aku terdiam, terpana melihat gambar di layar monitor TV. Sebuah tontotan yang tak layak untuk ditiru. Seorang guru dengan sangat begisnya menghajar beberapa murid di lapangan yang disaksikan langsung oleh teman-temannya. Ya, diberitakan seorang kawan guru di daerah Muara Enim Sumatera Selatan terancam hukuman 5 tahun penjara karena dipidana melakukan tindak kekerasan kepada siswanya sendiri. Rekaman video menggunakan kamera handphone menayangkan perbuatan guru tersebut. Beberapa siswa dibanting-banting ke tanah layaknya boneka mainan. Masya Allah... sungguh jelas itu diluar batas kewajaran sebuah hukuman untuk murid. Orang tua mana yang sanggup menyaksikan buah hatinya diperlakukan seperti itu. Di rumah pun mungkin tidak pernah memperlakukan anaknya sedemikian sadisnya. Lalu kenapa guru tersebut begitu bengis dan kejam? Bukankah guru seyogyanya menjadi orangtua kedua bagi si anak? Bukankah guru harusnya bisa memberi contoh yang baik bagi muridnya, dan bukan sebaliknya menjadi ancaman.
Oh kawanku...kenapa engkau lakukan itu? Kenapa engkau berubah menjadi Monster dan Algojo yang sangat menakutkan. Ada apa denganmu?
Baca lanjutannya di artikel berikutnya, ya!
Saat Guru Killer Bertemu Murid Ndableg (Kisah Guru Killer Bagian 2)
Salam Istimewa!
Label:
Guru,
Guru Killer,
Murid,
Sekolah,
Siswa
Minggu, 21 Desember 2008
3 Style Guru Misterius
Apa yang Anda pikirkan saat membaca judul di atas, kawan? Apapun yang terlintas di benak Anda, saya yakin 90% pikiran Anda terfokus pada kata terakhir judul di atas, yaitu ”misterius”. Sebuah kata yang tidak bisa diartikan hanya dengan satu kata lain, tetapi harus beberapa kata agar menjadi pas. Ya, itulah uniknya sebuah kata yang berlafal ”misterius”.
Dalam sistem kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah, faktor guru masih menjadi penentu utama berhasil dan tidaknya sistem itu berjalan. Walaupun kurikulum sering gonta-ganti, tetapi ujung-ujungnya tetap butuh peran guru sebagai pelaksana kurikulum. Sistem akan berjalan baik jika guru-gurunya antusias, kredibel, berintegritas, dan pintar. Sebaliknya, sistem akan sering ngadat jika guru-gurunya terjangkiti penyakit malas, monoton, asal ngajar, tidak kreatif dan kurang pintar. Contoh kongkretnya adalah ketika guru-guru di sebuah sekolah demo menuntut tunjangan fungsional yang belum cair, secara otomatis aktivitas belajar-mengajar di sekolah tersebut akan terhenti.
Agar sistem tidak ngadat dan KBM dapat berlangsung dengan lancar bahkan menyenangkan bagi semua pihak (baik guru maupun siswa), saya akan membagikan sebuah tips, yaitu jadilah guru misterius. Dengan menjadi guru misterius Anda akan merasakan perubahan besar dari biasanya. Murid-murid Anda akan semakin antusias mengikuti penyampaian materi Anda. Bahkan kehadiran Anda ditengah-tengah mereka sangat dinanti-nantikan. Mereka akan sangat kecewa jika Anda tidak masuk kelas karena satu dan lain hal. Dan satu lagi, jika Anda berniat untuk mutasi sebaiknya siapkan seribu alasan karena ada seribu tangan yang akan memegang erat kaki Anda untuk tidak melangkah keluar meninggalkan sekolah mereka. Anda ingin bukti? Silakan dibuktikan dan Anda akan tersenyum puas karenanya.
Untuk menjadi guru misterius sebenarnya tidaklah terlalu sulit, hanya butuh konsistensi dari Anda. Dan biasanya segala hal yang berbau konsistensi itu langsung dipandang berat. Apalagi bagi guru-guru Indonesia yang senang berada di zona nyaman. Oke, Anda harus miliki tiga ciri khas (sikap dasar) jika ingin menjadi guru misterius. Ciri khas di sini bisa diartikan sebagai gaya mengajar (teaching style). Tiga gaya itu adalah:
Dinamis dan Inovatif
Dalam hal mengajar, jangan pernah membuat patron atau rel. Sehingga Anda selalu mengikuti rel itu dan tidak pernah bisa berbelok/berbalik untuk sekedar membuat perubahan gaya mengajar. Ini penting sebagai pondasi profil guru misterius. Dengan begitu Anda akan leluasa (luwes) terhadap segala situasi dan teknik-teknik mengajar yang baru. Kurikulum akan cenderung berinovasi dari waktu ke waktu. Itu artinya Anda juga dituntut untuk inovatif dalam menyampaikan pelajaran. Jangan sampai kurikulum sudah bagus tapi Anda masih menggunakan pola-pola lama (mencatat, menghafal, mendikte, merangkum, dll).
Tidak Mudah Ditebak
Pernahkah Anda mendengar celetukan teman-teman Anda sewaktu sekolah dulu. Kira-kira seperti ini:
”Ah, males ah...Pak Umar lagi, Pak Umar lagi.”
”Bete banget sama pelajaran Pak Umar, masak nyateeeet mulu. Gak pernah diterangin.”
”Ke kantin dulu ah...terlambat masuk gak apa-apa, Pak Umar gak akan marah kok nyantaaai...”
”Pak Umar itu lho, kalau ngawasi ujian kok keliling-keliling terus, duduk diam di depan gitu napa.”
Jika ada celetukan-celetukan semacam itu dari murid Anda, jangan langsung berang, kawan. Ada hukum sebab akibat. Celetukan mereka hanya akibat, sedangkan sebabnya tetaplah Anda. Anda harus mawas diri bahwa ada yang salah dalam gaya Anda. Tanpa Anda sadari, Anda telah sukses menciptakan brand di mata murid Anda. Tapi sayang, branding Anda ternyata tidak Anda kehendaki atau tidak dikehendaki murid Anda. Hasilnya ya seperti itu. Tapi tenang, masih ada jalan untuk merubah brand Anda. Caranya adalah dengan menjadi guru yang tidak mudah ditebak oleh murid Anda.
Tidak mudah ditebak itu bisa Anda aplikasikan pada semua atribut keguruan Anda. Kongkretnya seperti ini:
Gaya mengajar
- gunakan gaya yang tidak monoton
Sikap sengajar
- jika Anda sekarang tegas, besok lunak, lusa garang, lunak lagi, tegas lagi, dst.
Cara bicara
- kadang bicara berwibawa, kadang kocak, kadang datar, dll
Cara berpakaian
- jangan menggunakan pakaian itu-itu saja, cari desain baru, warna baru, dll.
Gerak tubuh
- bergeraklah secara tidak tetap, kadang duduk, berdiri, keliling, dll
Penuh Kejutan
Inilah kunci yang harus dimiliki oleh guru misterius, yaitu penuh kejutan. Buatlah kejutan-kejutan baru pada tiap tatap muka di kelas Anda. Kejutan-kejutan itu usahakan relevan dengan materi Anda. Kalau tidak bisa dengan kejutan besar, kejutan kecil juga tidak mengapa. Yang penting ada hal baru yang harus Anda bawa ke kelas dan itu penting untuk murid Anda, terutama untuk memudahkan pemahaman materi.
Dengan selalu membuat kejutan, dapat dipastikan murid Anda akan bertanya-tanya dalam hati. Apa lagi ya kejutan Anda berikutnya? Mereka akan dihatui rasa penasaran. Saat Anda membawa sesuatu ke dalam kelas rasa penasaran mereka akan naik ke ubun-ubun, dan itu bisa Anda olah sedemikian rupa.
Contoh:
Jika kemarin Anda mengajarkan Drama dengan meminta murid Anda tampil di depan kelas
Hari ini Anda bawa video film terbaru, perlihatkan satu adegan, kemudian minta murid Anda menirunya.
Jika kemarin Anda menerangkan rumus phytagoras plus aplikasinya
Sekarang giliran murid Anda jadi guru dan minta dia menerangkan rumus itu lagi kepada Anda/murid lainnya.
Jika kemarin Anda menceritakan sejarah kerajaan majapahit
Hari ini Anda mondongeng tentang kancil suka mencuri mentimun
Oke kawan, itulah tiga hal yang harus Anda miliki jika ingin memperoleh predikat guru misterius. Dengan menerapkan tiga hal di atas, keberadaan Anda lebih bermakna di hati murid Anda. Murid Anda akan selalu mengingat Anda dan gaya mengajar Anda walaupun telah lama dan jauh meninggalkan Anda. Anda akan menjadi guru spesial di mata mereka. Bukankah itu lebih menyenangkan daripada Anda dikenang sebagai guru yang killer.
Bagi Anda yang bukan guru, Anda juga bisa menggunakan strategi misterius ini, misalnya:
• dalam bisnis
Ini sepertinya malah wajib. Seorang pebisnis harus kreatif dan agresif menampilkan strategi-strategi marketing baru. Produk-produk baru, dan planning-planning baru.
• dalam ngeblog
Agar blog Anda menarik, berikan/tampilkan hal-hal baru, unik, penting, dan bermanfaat di blog Anda. Buatlah inovasi-inovasi baru di blog Anda agar blog Anda tidak monoton. Tapi tetap harus sejalan dengan visi ngeblog Anda.
• dalam rumah tangga
Ahaa...siapa sih anggota keluarga Anda yang tidak suka diberi kejutan. Kejutan-kejutan kecil nan istimewa dapat membuat keluarga Anda semakin harmonis. Seperti apa kejutannya? Anda yang sudah berkeluarga mungkin bisa menambahkannya.
Salam Istimewa dari BISNIS GURU
Dalam sistem kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah, faktor guru masih menjadi penentu utama berhasil dan tidaknya sistem itu berjalan. Walaupun kurikulum sering gonta-ganti, tetapi ujung-ujungnya tetap butuh peran guru sebagai pelaksana kurikulum. Sistem akan berjalan baik jika guru-gurunya antusias, kredibel, berintegritas, dan pintar. Sebaliknya, sistem akan sering ngadat jika guru-gurunya terjangkiti penyakit malas, monoton, asal ngajar, tidak kreatif dan kurang pintar. Contoh kongkretnya adalah ketika guru-guru di sebuah sekolah demo menuntut tunjangan fungsional yang belum cair, secara otomatis aktivitas belajar-mengajar di sekolah tersebut akan terhenti.
Agar sistem tidak ngadat dan KBM dapat berlangsung dengan lancar bahkan menyenangkan bagi semua pihak (baik guru maupun siswa), saya akan membagikan sebuah tips, yaitu jadilah guru misterius. Dengan menjadi guru misterius Anda akan merasakan perubahan besar dari biasanya. Murid-murid Anda akan semakin antusias mengikuti penyampaian materi Anda. Bahkan kehadiran Anda ditengah-tengah mereka sangat dinanti-nantikan. Mereka akan sangat kecewa jika Anda tidak masuk kelas karena satu dan lain hal. Dan satu lagi, jika Anda berniat untuk mutasi sebaiknya siapkan seribu alasan karena ada seribu tangan yang akan memegang erat kaki Anda untuk tidak melangkah keluar meninggalkan sekolah mereka. Anda ingin bukti? Silakan dibuktikan dan Anda akan tersenyum puas karenanya.
Untuk menjadi guru misterius sebenarnya tidaklah terlalu sulit, hanya butuh konsistensi dari Anda. Dan biasanya segala hal yang berbau konsistensi itu langsung dipandang berat. Apalagi bagi guru-guru Indonesia yang senang berada di zona nyaman. Oke, Anda harus miliki tiga ciri khas (sikap dasar) jika ingin menjadi guru misterius. Ciri khas di sini bisa diartikan sebagai gaya mengajar (teaching style). Tiga gaya itu adalah:
Dinamis dan Inovatif
Dalam hal mengajar, jangan pernah membuat patron atau rel. Sehingga Anda selalu mengikuti rel itu dan tidak pernah bisa berbelok/berbalik untuk sekedar membuat perubahan gaya mengajar. Ini penting sebagai pondasi profil guru misterius. Dengan begitu Anda akan leluasa (luwes) terhadap segala situasi dan teknik-teknik mengajar yang baru. Kurikulum akan cenderung berinovasi dari waktu ke waktu. Itu artinya Anda juga dituntut untuk inovatif dalam menyampaikan pelajaran. Jangan sampai kurikulum sudah bagus tapi Anda masih menggunakan pola-pola lama (mencatat, menghafal, mendikte, merangkum, dll).
Tidak Mudah Ditebak
Pernahkah Anda mendengar celetukan teman-teman Anda sewaktu sekolah dulu. Kira-kira seperti ini:
”Ah, males ah...Pak Umar lagi, Pak Umar lagi.”
”Bete banget sama pelajaran Pak Umar, masak nyateeeet mulu. Gak pernah diterangin.”
”Ke kantin dulu ah...terlambat masuk gak apa-apa, Pak Umar gak akan marah kok nyantaaai...”
”Pak Umar itu lho, kalau ngawasi ujian kok keliling-keliling terus, duduk diam di depan gitu napa.”
Jika ada celetukan-celetukan semacam itu dari murid Anda, jangan langsung berang, kawan. Ada hukum sebab akibat. Celetukan mereka hanya akibat, sedangkan sebabnya tetaplah Anda. Anda harus mawas diri bahwa ada yang salah dalam gaya Anda. Tanpa Anda sadari, Anda telah sukses menciptakan brand di mata murid Anda. Tapi sayang, branding Anda ternyata tidak Anda kehendaki atau tidak dikehendaki murid Anda. Hasilnya ya seperti itu. Tapi tenang, masih ada jalan untuk merubah brand Anda. Caranya adalah dengan menjadi guru yang tidak mudah ditebak oleh murid Anda.
Tidak mudah ditebak itu bisa Anda aplikasikan pada semua atribut keguruan Anda. Kongkretnya seperti ini:
Gaya mengajar
- gunakan gaya yang tidak monoton
Sikap sengajar
- jika Anda sekarang tegas, besok lunak, lusa garang, lunak lagi, tegas lagi, dst.
Cara bicara
- kadang bicara berwibawa, kadang kocak, kadang datar, dll
Cara berpakaian
- jangan menggunakan pakaian itu-itu saja, cari desain baru, warna baru, dll.
Gerak tubuh
- bergeraklah secara tidak tetap, kadang duduk, berdiri, keliling, dll
Penuh Kejutan
Inilah kunci yang harus dimiliki oleh guru misterius, yaitu penuh kejutan. Buatlah kejutan-kejutan baru pada tiap tatap muka di kelas Anda. Kejutan-kejutan itu usahakan relevan dengan materi Anda. Kalau tidak bisa dengan kejutan besar, kejutan kecil juga tidak mengapa. Yang penting ada hal baru yang harus Anda bawa ke kelas dan itu penting untuk murid Anda, terutama untuk memudahkan pemahaman materi.
Dengan selalu membuat kejutan, dapat dipastikan murid Anda akan bertanya-tanya dalam hati. Apa lagi ya kejutan Anda berikutnya? Mereka akan dihatui rasa penasaran. Saat Anda membawa sesuatu ke dalam kelas rasa penasaran mereka akan naik ke ubun-ubun, dan itu bisa Anda olah sedemikian rupa.
Contoh:
Jika kemarin Anda mengajarkan Drama dengan meminta murid Anda tampil di depan kelas
Hari ini Anda bawa video film terbaru, perlihatkan satu adegan, kemudian minta murid Anda menirunya.
Jika kemarin Anda menerangkan rumus phytagoras plus aplikasinya
Sekarang giliran murid Anda jadi guru dan minta dia menerangkan rumus itu lagi kepada Anda/murid lainnya.
Jika kemarin Anda menceritakan sejarah kerajaan majapahit
Hari ini Anda mondongeng tentang kancil suka mencuri mentimun
Oke kawan, itulah tiga hal yang harus Anda miliki jika ingin memperoleh predikat guru misterius. Dengan menerapkan tiga hal di atas, keberadaan Anda lebih bermakna di hati murid Anda. Murid Anda akan selalu mengingat Anda dan gaya mengajar Anda walaupun telah lama dan jauh meninggalkan Anda. Anda akan menjadi guru spesial di mata mereka. Bukankah itu lebih menyenangkan daripada Anda dikenang sebagai guru yang killer.
Bagi Anda yang bukan guru, Anda juga bisa menggunakan strategi misterius ini, misalnya:
• dalam bisnis
Ini sepertinya malah wajib. Seorang pebisnis harus kreatif dan agresif menampilkan strategi-strategi marketing baru. Produk-produk baru, dan planning-planning baru.
• dalam ngeblog
Agar blog Anda menarik, berikan/tampilkan hal-hal baru, unik, penting, dan bermanfaat di blog Anda. Buatlah inovasi-inovasi baru di blog Anda agar blog Anda tidak monoton. Tapi tetap harus sejalan dengan visi ngeblog Anda.
• dalam rumah tangga
Ahaa...siapa sih anggota keluarga Anda yang tidak suka diberi kejutan. Kejutan-kejutan kecil nan istimewa dapat membuat keluarga Anda semakin harmonis. Seperti apa kejutannya? Anda yang sudah berkeluarga mungkin bisa menambahkannya.
Salam Istimewa dari BISNIS GURU
Label:
Gaya Mengajar,
Guru,
Guru Misterius,
Kurikulum,
Misterius,
Pendidikan,
Sekolah,
Siswa,
Strategi
Langganan:
Postingan (Atom)
