Tampilkan postingan dengan label Gaya Bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gaya Bahasa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Januari 2009

Haruskah Berbohong dan Berhypo dalam Sales Letter?


Anda pernah membuka website www.formulabisnis.com, kan? Kalau belum, silakan dibuka sekarang! Dan apa yang anda lihat di halaman utama? Ya, itulah contoh sales letter produk SMUO yang dijual oleh pemiliknya Joko Susilo.

Lalu bacalah kalimat demi kalimat yang tertera di sana! Menarik bukan? Begitulah bahasa redaksi sales letter dibuat. Sangat memikat dan meyakinkan agar anda tergoda untuk membeli produk yang dijual. Untuk membuat bahasa yang memikat seperti itu boleh dibilang gampang-gampang susah. Gampangnya karena banyak contoh sales letter yang bisa anda tiru jika anda rajin browsing. Tinggal diedit sedikit dan disesuaikan dengan produk anda, maka jadilah sales letter hasil modifikasi anda. Susahnya jika anda membuat sales letter yang original, maka dibutuhkan seni copywriting agar menghasilkan sales letter yang betul-betul memikat dan meyakinkan. Mengenai teknik copywriting sudah pernah disinggung Mas Wawan Purnama di sini. Kata ”memikat dan meyakinkan” adalah inti dari sales letter. Tanpa itu, alamat sales letter anda melempem. Ujung-ujungnya produk anda pun susah laku.

Berbohong dalam Sales Letter
Kenapa berbohong? Karena berbohong adalah cara yang praktis untuk meyakinkan orang lain. Dan faktanya tidak sedikit produsen yang mengandalkan kebohongan sebagai bumbu utama iklan produknya. Di mana-mana berkoar-koar mengatakan produknya bisa begini bisa begitu. Hingga masyarakat terhipnotis untuk membelinya. Namun begitu dicoba, preeettt...tarnyata mengecewakan karena tidak sesuai dengan gembar-gembornya.

Saya yakin anda dan saya sepakat bahwa berbohong itu tidak baik. Selain dilarang agama juga dapat merugikan orang lain. Anda pun kalau dibohongi mungkin juga akan marah dan mencak-mencak. Lalu bagaimana dengan sales letter? Haruskah memberi bumbu kebohongan agar terkesan meyakinkan dan memikat?

Jika kita telah sepakat bahwa berbohong itu tidak baik seyogyanya ada alternatif lain yang memiliki efek yang sama. Artinya, tanpa berbohong pun sales letter kita akan tetap meyakinkan dan memikat. Mari berembug bersama, dan sebagai urun rembug saya adalah tunjukkan identitas kita secara jelas dalam sales letter. Nomor kontak kita dan para peserta testimonial yang tercantum pun bisa dihubungi sewaktu-waktu alias bukan aspal.

Berhypo dalam Sales Letter
Anda mungkin masih asing dengan istilah ”hypo”. Nah, jika sekarang dikembalikan pada istilah aslinya yaitu ”hiperbola” mungkin anda lebih paham. Jujur saja untuk istilah hypo ini bagi saya juga masih baru. Yaa..kira-kira satu bulanan inilah baru akrab, itu pun kalau tidak salah saya peroleh dari forum kaskus.

Anda sudah mengerti kan apa itu hiperbola? Gampangnya adalah melebih-lebihkan kalimat agar memiliki kesan luar biasa pada informasi yang disampaikan. Kalau anda pernah membaca kalimat ”Ia telah bekerja siang malam peras keringat banting tulang” dan ”Bumi Palestina sekarang banjir darah” itulah contoh kalimat hiperbola. Jika anda analisis maknanya kata per kata jelas tidak seheboh itu. Tapi, apakah kalimat tersebut menipu? bukan. Kalimat tersebut benar dan informasi yang disampaikan pun benar, hanya saja yang digunakan adalah salah satu bentuk gaya bahasa/majas. Kalimat seperti ini rata-rata bisa diterima dan tidak ada yang komplain. Lalu bagaimana jika diaplikasikan dalam sales letter?

Sekali lagi mari kita berembug bersama untuk kebaikan bersama pula. Saya menjunjung tinggi kejujuran dan menurut saya kejujuran dalam bisnis adalah hal yang sangat vital. Nah, sekarang giliran anda yang urun rembug pertama. Silakan!


Salam Istimewa!
BISNIS GURU : Referensi Bisnis Online dan Informasi Pendidikan