Senin, 25 Januari 2010

Mau Jadi Guru atau Pebisnis?

Pertanyaan yang terdengar simpel, tapi cukup sulit juga buat saya untuk menjawabnya. Betapa tidak, sebagai guru, saya memiliki tanggung jawab besar untuk turut membangun sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan tanpa terbebani pamrih materi atau sejenisnya. Di sisi lain, naluri bisnis yang telah sekian lama bersemayam pada dari saya seolah terus-menerus bergelora. Mengobok-obok otak dan menarik-narik tubuh saya untuk terus menjalankan aktifitas bisnis. Sedangkan bisnis itu sendiri sarat dengan muatan materi. Mengeruk keuntungan materi sebesar-besarnya dengan modal seminimal mungkin adalah prinsip umum dalam bisnis. Tentu ini merupakan sebuah paradoks yang agaknya dilematis buat saya.

Tapi apa mau dikata, memaksakan diri untuk fokus pada satu bidang justru membuat batin saya sakit. Guru adalah profesi yang begitu saya cintai saat ini. Walaupun awalnya sempat merasa tersesat ke jalur ini --karena cita-cita saya sejak kecil adalah jadi arsitek-- tapi alhamdulillah akhirnya sekarang bisa menerima bahkan menikmati profesi ini. Saya merasa hari-hari dalam hidup ini menjadi begitu berwarna saat berkumpul bersama anak-anak didik saya. Mengajar, bergaul, dan bercanda bersama mereka adalah cerita hidup yang indah dan menyenangkan. Menangani kebandelan-kebandelan mereka justru membuat saya semakin matang dan dewasa sebagai manusia.

Sedangkan dunia bisnis bukanlah barang baru dalam kehidupan saya. Sejak SMA, disaat teman-teman lain asyik dimanjakan dengan uang subsidi orangtuanya, saya sudah mulai berani berspekulasi menjalankan bisnis. Ruang dan waktu yang membatasi saya saat itu tak sedikitpun menyurutkan nyali untuk menekuni bisnis. Bisnis buku pelajaran adalah bisnis yang sempat saya jalankan saat saya masih SMA. Tak tanggung-tanggung modal Rp 500.000,- hasil menyisihkan uang jajan dari orangtua bisa saya putar hingga menghasilkan omset bersih Rp 2.000.000,- sebuah nominal yang cukup fantastis untuk anak seusia saya saat itu. Begitupula saat menjalani masa-masa kuliah, aktivitas bisnis tetap mewarnai hidup saya. Walaupun tidak terjun langsung ke dalam bisnis praktis, tapi hasrat dan motivasinya tetap sama yaitu ingin mendapatkan uang dari usaha sendiri. Maka tenggelamlah saya ke dalam bidang kuliner selain berkuliah. Saat itu saya bekerja sebagai waiter hingga menempati posisi sebagai kasir di sebuah restoran cepat saji dengan produk makanan ala Jepang.

Dan sekarang, saat profesi guru bahkan status PNS sudah melekat pada diri saya, rupanya naluri bisnis ini tetap menyala, bahkan semakin berkobar-kobar. Bukan lantaran semata-mata gaji Guru/PNS itu kecil lalu saya mencari penghasilan lebih di luar jalur itu. Tapi sekali lagi saya katakan bahwa memilih fokus pada salah satunya hanya membuat jiwa saya seolah terpasung. Saya takut nanti malah sakit jiwa hanya gara-gara memendam rasa. Maka tidak perlu heran jika akhirnya hidup saya saat ini ibarat berjalan di dua rel yang berbeda. Namun bukan berarti saya lantas mengorbankan kualitas. Saya tetap menjaga dengan sebaik-baiknya agar keduanya saling support dan sama-sama berkualitas. Bagaimana dengan Anda?

Salam Istimewa!







29 komentar:

  1. Dari kasus Mas Umar, solusi bijaksananya PNS tetap dipertahankan. Dan untuk mengakomodasi keinginan yang menghentak-hentak jadi pebisnis, mengapa harus dikekang?

    Kerja guru kan tidak memakan waktu 12 jam. Saya yakin Mas Umar masih punya waktu luang untuk menyalurkan hobi, bakat dan minat bisnisnya. Karena di luar Mas Umar, tidak sedikit guru yang sukses sambil berbisnis.

    Salam spektakuler !

    BalasHapus
  2. Ya mas sum, jam kerja guru paling banter 4 jam, itupun tidak sminggu full, jd msh bnyk waktu untk berbisnis.
    Thanks supportnya, smog sy bisa sederet dg mereka2 yg sdh sukses sebelumnya.

    BalasHapus
  3. Sepertinya, posting ini adalah curahan hati mas Umar dari lubuk yang terdalam. Hehehe...

    BalasHapus
  4. menrt sy ms, bisa ke2nya dijalankan. Apalagi bener kata ms, paling banter hanya 4 jam sj. Kebetulan sy dl jg pernah jadi guru ms. Kalo skrngpun sprti sy,ya hrs bagi2 waktu jg. Yg penting tetep bs managemen diri mas Umar. Smoga bisnis dan gurunya tambah sukses.

    BalasHapus
  5. tinggal management waktu aja mas :) sayang kalau dunia bisnis hrus dtinggalin...

    BalasHapus
  6. @ Agus Siswoyo
    Hehe...tau aja sih, jadi malu ah...

    @ Arkum
    Menjalankan keduanya adalah pilihan terbaik bagi saya saat ini. Mudah-mudahan semua lancar dan tidak kacau.

    @ Ardy Pratama
    Hehe...betul juga Mas. Dunia bisnis ternyata mengasyikkan juga. Apalagi kalo pas untung besar.

    BalasHapus
  7. salahsatu blogger amphibi rupanya..hehe..

    BalasHapus
  8. Kalo Menurut saya, menjalani kedua profesi itu sekaligus juga pilihan yg baik... :)

    BalasHapus
  9. Jadi guru ataupun pebisnis, kita lihat dulu orientasinya dalam rangka apa.

    Seorang guru honorer mungkin gajinya tidak seberapa. Tapi ada pahala yang melimpah dari pengajaran yang dilakukan. Bukan hanya untuk guru agama. Guru mata pelajaran lainnya pun memberikan andil yang besar dalam perjalannan bangasa.

    Sebaliknya, pebisnis yang baik harus bisa melakukan transfer ilmu pengetahuan (knowledge) kepada masyarakat sekitar. Jadi bukan hanya profit oriented melulu.

    BalasHapus
  10. @ Pasutrisatu
    Hehe....begtulah mas.

    @ Wellsen
    Terimakasih argumennya, Mas!

    @ Agus Siswoyo
    Mantaps...selalu ada komeng babak kedua. Kebiasaan pakai pertamax, ya Mas? hehe...

    Btw, saya sepakat dengan argumennya, Mas. Orientasi memang menjadi salah satu faktor penentu baik atau tidaknya sebuah pilihan. Dan mudah-mudahan pilihan ini adalah yang terbaik buat saya. Thanks..

    BalasHapus
  11. Wah Saya jadi guru untuk keluarga aja, habis susah mau jadi PNS .. he2x... kalau jadi pebisnis sudah pasti itu ...

    BalasHapus
  12. @Teten:
    wah... bagus itu mas.
    Walaupun hnya jd guru di keluarga, msh bnyk jg orng tua yg tdk memiliki waktu untk meluangknnya.
    Pdahal kombinasi dan sinkronisasi antara pndidikan di sekolah dan di rumah itulah pndidikan yg baik untk anak.

    BalasHapus
  13. Kalau yang ini komeng babak ketiga. Hahaha...
    Just say hello aja.

    BalasHapus
  14. Komeng kedua Mas Umar, semoga semakin dahsyat dalam meniti karier!

    BalasHapus
  15. Sebuah profesi memang wajib di jalankan dengan sepenuh hati sehingga hasilnyapun bikin tenteram hati, sebaliknya bisnis pun perlu di beri ruang untuk seseutu yang judulnya uang, dan semua itu tidak boleh di perlakukan sembarang atau nanti mata malah berkunang kunang, he...he...kaya pantun. Met sore mas sebuah usaha yang patut di acungi jempol mas, riwyat hampir sama cuma tempat yang berbeda, sukses selalu untuk Mas Guru. Main ke Muklis.com mas, di tunggu ya

    BalasHapus
  16. Ini sebuah info dari BBM, semoga article ini bisa masih berkaitan dengan isi blog ini, salam sukses Mas Guru

    BalasHapus
  17. @ Agus Siswoyo
    Hahaha...ditunggu babak keempatnya.
    Hellooo juga Mas.

    @ Sumartono
    Amiinnn...do'a dan dukungan Mas Sum sangat berarti bagi saya.

    @ Muklis
    Hehe...pantunnya boleh juga tuh. Pasti mikirnya lama buat ngpost.Mantaps!
    Cerita hidup kita memang hampir sama Mas. Mudah2an ini dapat menjadi pelajaran hidup untuk anak-anak kita (ups..aku belum punya anak ding!hehe...)

    Segera meluncur ke BBM ahhh...

    BalasHapus
  18. kembali kepada diri masing-masing. dan akan mempertanyakan diri sendiri. sejauh mana dan seberapa besar keinginan itu di bayar dengan jerih payah yang menyenangkan.. :D

    BalasHapus
  19. hebat mas berjalan di dua rel yang berbeda dan berlabuh di rel yang sama.. sukses terus yaa

    BalasHapus
  20. @ Fadly Muin
    Tepat sekali Mas. Setiap jerih payah pasti akan membuahkan hasil. Walaupun terkadang, hasilnya kurang memuaskan.

    @ Arief Rizky Ramadhan
    Belum bisa dikatakan hebat mas, ini masih berproses...
    Tentu hasil yang terbaiklah yang saya harapkan. Thanks supportnya.

    BalasHapus
  21. mantap mas tulisannya, seolah menyindir aktivitas saya saat ini...:-)
    saya juga guru seperti Mas, dan juga mencoba berbagai bisnis dengan alasan klise: menambah pundi penghasilan oleh karena gaji bulanan sudah 'tersunat' angsuran ke bank he he
    meski demikian, kualitas pengajaran dan pendidikan tentuya tidak boleh diabaikan karena menjadi guru bukan hanya profit oriented karena ada gaji bulanan tapi lebih dari itu adalah pengabdian dan dedikasi kita untuk kehidupan.
    :-)

    BalasHapus
  22. wah semangat dan kemauan yg gigih
    perlu ditiru
    salam

    BalasHapus
  23. pilih dua2nya, mas. jadi guru sekaligus pebisnis. kalau dua2nya bisa berjalan bagus, kenapa ndak? model bisnis sekarang kan bisa juga dikendalikan secara online, haks. *kok jadi sok tahu saya*

    BalasHapus
  24. jalan dua-duanya aja mas.
    kalau perlu ntar mobilnya lebih canggih dari kepala sekolah, hahaha...

    Ntar kalau ditanya, kok bisa? Bisnis dong!
    Pasti nampak lebih berwibawa

    BalasHapus
  25. Lama tidak update Mas Umar? :)

    BalasHapus
  26. menjadi guru itu adalah sebuah pengabdian, mencari uangnya di luar lingkungan sekolah/pendidikan..

    BalasHapus
  27. Saya Berminat Kedua2nya..Bisnis untuk silaturahiim sesamanya...Pendidikan juga berati bagi kehidupan manusia yang ingin befikiran maju dan sukses.

    Salam kenal dari saya Pak Umar

    Ronaldo Rozalino S.Sn
    Guru SMAN Pintar Kuansing Riau
    Kunjungi Blog Pribadi saya Pak
    http://ronaldorozalino.blogspot.com

    BalasHapus
  28. Jujur saya sendiri menginginkan jadi seorang pembisnis tapi kalau seandainya sudah ditakdirkan menjadi seorang guru maka saya tetap berusaha untuk membuka usaha sendiri. Thanks informasinya sangat menarik sekali hehe

    BalasHapus
  29. Dalam hidup memang perlu yang namanya pilihan tapi jika memang ada kesempatan menjadi seorang guru dan juga pembisnis mengapa tidak? Malah akan menambah pemasukan kita. yang terpenting adalah menyesuaikan waktu nya saja

    BalasHapus