
Bayangkan anda adalah sebutir telur yang bertengger di ujung tanduk. Anda harus bekerja keras menjaga keseimbangan agar tidak terpeleset jatuh. Terpeleset sedikit saja maka tamatlah riwayat anda. Anda bisa pecah dan hancur berantakan.
Bayangkan, diri anda adalah pejuang-pejuang kemerdekaan negeri ini. Anda menjadi tawanan dan dipekerjakan secara paksa oleh penjajah. Anda terpaksa harus bekerja RODI demi kepentingan para kolonial. Dan setiap kesalahan yang anda lakukan, lecutan-lecutan cemeti siap menggores kulit anda.
Bayangkan anda adalah warga korban perang. Tidak ada nyanyian merdu yang bisa anda nikmati selain dentuman meriam. Tidak ada udara segar yang bisa anda hirup selain gas amoniak dan karbondioksida yang semakin menyesakkan paru-paru. Bahkan khusyuknya sujud anda masih berada di bawah bayangan moncong senapan yang sewaktu-waktu siap meledakkan kepala anda.
Dan kali ini, bayangkan anda adalah seorang guru. Lokasi mengajar anda di pelosok negeri ini. Hari-hari mengajar anda diliputi suasana mencekam. Tidak ada pilihan untuk anda selain tetap mengajar dibawah bayang-bayang kematian. Ya, anda harus tetap mengajar, sedang di samping luar kanan dan kiri kelas anda puluhan moncong tombak, belati, dan parang siap menodong ke arah anda.
Sebuah fakta tentang kondisi guru pedalaman akan saya ungkap di sini. Hanya untuk anda, para pecinta BISNIS GURU semuanya.
Susahnya Mengubah Pola Pikir Primitif
Ini adalah kisah nyata yang terjadi di sebuah Sekolah Menengah Pertama Negeri(SMPN) di daerah saya. Kisah ini sebenarnya bukanlah kisah saya, karena kebetulan saya tidak mengajar di SMP tersebut. Ini adalah kisah teman saya yang memang menjadi guru di sana.
Menjadi guru di pelosok apalagi di luar Jawa ternyata tidak semudah mengajar di perkotaan. Mengajar di daerah terpencil dengan masyarakat yang rata-rata masih mengandalkan (maaf) logika primitif membutuhkan kesiapan ekstra. Baik itu kesiapan fisik maupun mental. Bila tidak siap, salah-salah bisa fatal akibatnya. Nyawa bisa melayang percuma kalau sampai kita terpancing untuk meladeninya.
Betapa tidak, masyarakat primitif adalah masyarakat yang acuh tak acuh (apriori) dengan pendidikan. Mereka lebih suka anak-anaknya bekerja membantu orangtuanya di ladang/kebun daripada membiarkannya sekolah. Sekolah dianggap tidak penting dan membuang waktu saja.
Parahnya lagi, mereka rata-rata temperamental dan senang adu otot. Apalagi jika menyangkut dengan kelompok/sukunya. Mereka berani berbuat apapun demi menjaga kredibilitas sukunya. Makanya tidak heran jika seringkali terjadi perkelahian antarsuku di daerah saya. Padahal bila ditelisik lebih jauh, permasalahan yang memicu perkelahian tersebut sangatlah sederhana. Misalnya, rebutan pacar, saling mengejek antarpemuda, pemalakan anak sekolah, dan lain sebagainya.
Efek dari sifat temperamental dan logika primitif itu pun tak pelak terbawa-bawa juga ke lingkungan sekolah. Khususnya di salah satu SMP Negeri yang ada di situ. Kebetulan memang mayoritas siswa yang bersekolah di situ adalah masyarakat suku asli. Sebetulnya ada tiga suku yang bersekolah di situ, namun hanya dua suku saja yang sering membuat ulah. Namanya anak sekolah, ulah apa saja bisa dilakukan untuk memancing kemarahan guru-gurunya. Namun mau marah bagaimana jika setiap tindakan guru yang dianggap merugikan oleh siswa, justru menjadi bumerang.
Contohnya begini, misalnya saya sedang asyik-asyik mengajar pada jam pertama, tiba tiba dari luar datang segerombolan anak yang biasa terlambat. Bukannya mengetuk pintu dulu dengan sopan, tapi BRAAK! daun pintu terbentur tubuh dengan keras dari luar. Naluri seorang guru tentu akan menegurnya agar bisa lebih sopan untuk masuk kelas. Namun apa reaksi mereka? malah nyelonong saja menuju bangkunya tanpa menghiraukan lagi ucapan saya. Dipanggil pun mereka tak mendengarkan.
Contoh di atas adalah salah satu saja dari sederet cerita tidak menyenangkan di sekolah itu. Intinya, kondisi siswa memang sudah rusak parah. Ketertiban dan ketaatan pada aturan sudah tidak ada lagi. Apalagi kesopanan kepada guru. Nasehat dan peringatan dari para guru sudah tak dihiraukan lagi. Dan para guru pun tidak bisa berbuat banyak melihat perilaku siswa seperti itu. Dalam hati anda pasti bertanya-tanya kenapa bisa seperti itu? Apa penyebabnya? Kenapa gurunya tidak bertindak tegas saja?
Oke, menangani siswa seperti itu tidak terlalu mudah, kawan. Apalagi beberapa guru termasuk kepala sekolahnya adalah bagian dari siswa tersebut. Maksud saya, sebagian guru dan kepala sekolah adalah satu suku dengan siswanya, sehingga yang terjadi adalah :
- Hal seperti itu dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Ini karena nilai kesopanan pada masing-masing suku di Indonesia berbeda-beda.
- Pemberian sanksi tegas, justru dianggap sebagai sikap penantangan oleh siswa. Ini bisa berakibat guru dihadang dan dikeroyok oleh siswa sepulang sekolah.
- Bila ada dua anak dari dua suku bertengkar lalu kita lerai apalagi keputusan kita terkesan memihak pada salah satunya, maka mereka bisa mengerahkan warga sukunya untuk berkelahi.
- Dan repotnya, siswa selalu membuat ulah untuk memancing reaksi guru. Ini sangat dilematis, karena bila diladeni nyawa kita terancam, bisa perang antarsuku, dll tapi jika tidak diladeni persepsi siswa terhadap guru bisa sangat jelek, “Ah…guruku aja gak berani kok, sama aku”.
Begitulah kawan, gambaran guru yang mengajar di pelosok. Penuh tragedi dan keprihatinan. Bagaimana pun adanya, siswa tetaplah siswa, mereka adalah pengelola peradaban negeri ini selanjutnya. Maka, harapan untuk berubah menjadi lebih baik tetaplah ada dan itu dibutuhkan perjuangan luar biasa. Sekedar menambahi, berulang kali polisi terjun ke sekolah tersebut untuk mengendalikan massa, namun selalu berulang dan berulang lagi. Entah sampai kapan, yang pasti perjuangan mencerdaskan bangsa ini belum berakhir.
Salam Istimewa!
